Kuliner Khas Kuah Jruek Kebanggaan Turun Temurun Dari Aceh Barat

Kuliner Khas Kuah Jruek Kebanggaan Turun Temurun Dari Aceh BaratKuliner Khas Kuah Jruek Kebanggaan Turun Temurun - Kuah Jreuk adalah masakan khas dari pesisir Aceh wilayah barat. Dikatakan kuah jruek karena bumbu utamanya durian yang sudah difragmentasi kemudian dikeringkan lalu dijadikan tepung. Biasanya kuah jreuk hanya dimasak pada hari-hari tertentu saja, seperti pada pesta perkawinan, hari meugang ataupun pada perayaan hari besar lainnya.

Kuah jruek hampir sama dengan kuah pliek ue di Aceh bagian timur, hanya beda bumbu utamanya menggunakan kelapa yang sebelumnya juga sudah melalui proses fragmentasi yang disebut pliek ue.

Seperti kuah pliek ue, kuah jreuk juga menjadi kebanggaan masyarakat di pesisir Aceh bagian barat. Menurut masyarakat disana, kuah jreuk sudah ada sejak zaman dahulu, dan selalu menjadi pilihan menu untuk setiap acara penting di daerah tersebut.

Wisata Kuliner yang menjadi kebanggaan

Masakan yang menjadi kebanggaan yang turun-temurun tersebut selain berbahan dasar isi durian yang sudah difragmentasi dijadikan bumbu utama, biasanya masyarakat juga menambahkan terong, kacang panjang. Ada juga sebagaian warga yang menambahkan pisang untuk kelengkapan bahan-bahan sayurnya.

Selain untuk acara besar, kuah jruek sering dijadikan masakan spesial untuk menjamu tamu dari luar kota yang berkunjung ke rumah, hanya saja pada waktu tertentu kuah jruek ini susah diketemukan karena sudah semakin jarang orang yang membuat bumbunya, maklum terkadang butuh pembuatan sedikit lebih lama.


Proses Pembuatan Kuah Jruek Hampir Hilang

Selain proses pembuatan yang lama, pembuatan bumbu kuah jruek hampir saja hilang, karena minat masyarakat semakin berkurang, dan hanya pada waktu tertentu saja orang-orang membuatnya. Biasanya hanya pada musim durian saja masyarakat membuat bumbu kuah jruek, dan itu tidak di semua orang bisa membuatnya, juga tidak di semua tempat.
Mengenai rasa, kuah jruek memang khas di lidah, terutama bagi yang tidak suka rasa pedas, karena kuah jruek terasa seperti durian yang sudah diasamkan, itu menjadi alasan kenapa dinamakan kuah jruek.

Dalam bahasa Indonesia jruek bermakna diasamkan, namun tingkat asamnya tidak sampai menghasilkan kadar alkohol dalam bahan dasar bumbu jruek sehingga masih bisa dikonsumsi dan masih tergolong halal.

Mengenai warna, kuah jruek tidak berbeda dengan kuah pada umumnya, hampir seperti kuah leumak, juga hampir sama dengan kuah plik ue, alangkah baiknya soal yang satu ini harus benar-benar dirasa sama yang empunya lidah.

Jika berkunjung ke daerah Aceh bagian barat, jangan lupa untuk menyempatkan diri mencicipi kuah di jruek, biasanya juga ada di warung tertentu. Paling tidak kuah khas Aceh Bagian barat sudah pernah kita cicipi.