Teknik Teknik Dalam Panjat Tebing

Teknik Teknik Dalam Panjat Tebing

Panjat tebing pertama kali dimulai di daerah Eropa yaitu di pegunungan alpen, sebelum perang dunia I di Negara Austria pada tahun 1910. Baru sepuluh tahun setelahnya pemanjatan menggunakan tali dilakukan yaitu tahun 1920.
Mulai dikala itu panjat tebing mulai banyak dilakukan mulai dari memanjat tebing-tebing kecil hingga yang tertinggi di daerah pegunungan alpen tersebut yaitu sekitar tahun 1930, puncaknya dikala perang dunia II meletus.

Saat perang dunia II antusiasme dalam olahraga ini menurun drastis akan tetapi setelah perang berakhir olahraga panjat tebing justru semakin popular ini ditunjukan dengan banyaknya peralatan memanjat yang dibentuk dan tak sulit untuk menemukannya.

Di daerah Yosimete tepatnya tahun 1970, para pemanjat Amerika membuatkan teknik-teknik memanjat gres dan teknik-teknik tersebut hingga dikala ini masih digunakan untuk memanjat tebing-tebing besar. Awalnya teknik pemanjatan terkotak-kotak berdasarkan Negara masing-masing.

Saat itu Negara yang paling mendominasi yaitu Inggris dan Amerika hingga mereka menggunakan sistem dan teknik yang sama dalam memanjat. Francis juga merupakan Negara yang mempunyai andil besar dalam perkembangan olahraga ini alasannya yaitu merupakan Negara pertama yang menciptakan panjat tebing mengarah ke olahraga murni.

Mulai dikala itu panjat tebing semakin popular dan tersebar luas mulai dari Negara-negara di eropa, amerika hingga menjalar ke asia sekitar tahun 1980 hingga balasannya melepaskan diri dari induknya yang awalnya bab dari acara mendaki gunung menjadi bangkit sendiri olahraga panjat tebing.


Perkembangan Olahraga Panjat Tebing Di Indonesia


Di Indonesia sendiri olahraga panjat tebing sudah dikenal semenjak tahun 1960-an dimana pada dikala itu sudah bangkit kelompok pencinta alam yaitu Mapala Universitas Indonesia dan WANADRI yang sudah mempunyai bidang untuk pendakian gunung.

Namun pada saat itu tahun 1975 panjat tebing bangkit sendiri. Kala itu ada beberapa orang yang anggap berjasa membawa olahraga panjat tebing ini menjadi popular di Indonesia yaitu Harry Suliztiarto, Agus Resmonohadi, Hery Hermanu dan Dedi Hikmat mereka melaksanakan latihan panjat tebing di tebing citatah, jawa barat.

Di tahun 1989 Kantor kementrian pemuda dan olahraga berafiliasi dengan CCF yaitu sentra kebudayaan Perancis. Dengan mengundang 3 orang pemanjat tebing professional yaitu Patrick Bernhault, Jean Baptise Tribout dan Corrine Lebrune untuk tiba ke Indonesia dan memperkenalkan olahraga panjat tebing kepada masyarakat umum tentu ini semakin menciptakan olahraga ini menjadi kian terkenal hingga dikala ini.


I. Jenis Panjat Tebing Berdasarkan Penggunaan Alat


Berdasarkan penggunaan peralatan olahraga panjat tebing dikelompokan atau terbagi 2 (dua) yaitu :

1.1 Artificial Climbing

Memanjat tebing dengan system artificial, berarti memanjat dengan peralatan sebagai faktor utama dalam suksesnya pemanjatan. Peralatan disini bukan hanya digunakan sebagai alat pengaman tetapi juga sebagai alat penambah ketinggian.

Sistem ini biasa digunakan untuk tebing-tebing besar walau tidak tertutup kemungkinan digunakan juga untuk tebing-tebing kecil. Namum kemampuan teknik tetap menjadi yang utama.

1.2 Free Climbing

Berbeda dengan Artificial dalam free climbing, peralatan tidak digunakan untuk menambah ketinggian akan tetapi hanya sebatas alat pengaman dikala pemanjat terjatuh. Jadi disini peralatan sama sekali tidak mempengaruhi gerak si pemanjat. Pemanjat di amankan oleh seorang belayer yang selalu siaga, dan tak jarang juga belayer sesekali memberi arahan terhadap si pemanjat dalam merampungkan sebuah jalur.

Dalam perkembangannya free climbing ini terbagi dua yaitu:

a. Top Rope

Top rope yaitu jenis pemanjatan dimana tali sudah terpasang sebelumnya, tali tersebut akan dipasang pada pemanjat sebagai pengaman.

b. Solo

Solo dalam pemanjatan free climbing berarti proses memanjat dilakukan seorang diri dimana sipemanjat sendiri  berperan sebagai Leader merangkap Cleaner dan Belayer. Sedangkan solo sendiri juga sanggup dibagi menjadi dua jenis yaitu :

  • Solo Artificial Climbing
  • Solo Free Climbing


Jenis Panjat Tebing Berdasarkan Sistem Belay


Berdasarkan system belay atau system pengamannya olahraga panjat tebing terbagi beberapa kategori antara lain :

2.1 Gym Climbing

Pada pemanjatan jenis ini, posisi belayer berada dibawah dan tali pengaman dibelokan oleh system anchor bisa menggunakan pulley atau carabiner yang dipasang di atas si pemanjat, kalau si pemanjat terjatuh maka beban si pemanjat akan di belokan oleh system anchor sebelum ditahan oleh belayer.

2.2 Top Roping

Pada pemanjatan tipe ini, posisi yang membelay (belayer) berada di atas (top) jadi tali pengaman akan ke bawah menuju si pemanjat. Agar belayer tidak terlalu besar menahan beban dikala pemanjat terjatuh biasa dibentuk system pengalihan beban atau pembelok berfungsi juga untuk pengaman pembantu.

2.3 Lead Climbing

Pada jenis ini tali pengaman terpasang eksklusif ke pemanjat jadi tali dibawa sendiri oleh si pemanjat dari bawah diawal pemanjatan hingga atas (top). Disepanjang jalur panjat, si pemanjat memasang sendiri tali tersebut di titik-titik tertentu.

Jika si pemanjat terjatuh ia akan tertahan di pengaman yang terakhir dipasangnya. Belayer bertindak untuk menggunci  tali pengaman semoga pemanjat tetap tergantung diatas. Lead Climbing ini terbagi 2 (dua) antara lain :

2.4 Sport Climbing

Pada sport climbing jalur pemanjatan umumnya sudah dipasang alat untuk mengaitkan runner sebagai pengaman jadi sepanjang jalur pemanjatan sudah di bolted pada titik-titik di ketinggian tertentu.

Sport climbing bisa dilakukan di tebing alam bisa juga di dinding buatan. Pemanjatan jenis ini yang ditekankan yaitu factor olahraganya sama menyerupai main futsal atau olahraga lainnya.

2.5 Trad Climbing

Trad climbing abreviasi dari tradisional climbing atau sering juga disebut adventure climbing yaitu jenis pemanjatan yang lebih menitik beratkan pada sisi petualangannya, hanya dilakukan ditebing alam.

Kondisi jalur belum terpasang bolts apalagi sudah dicantol hanger jadi jalur benar-benar higienis alasannya yaitu tak ada pengaman buatan yang terpasang. Dilakukan oleh dua orang yaitu seorang leader dan belayer untuk jalur yang panjang biasa dipasang picth (station belay) bisa single ataupun multy picth.

Pemanjat harus membawa peralatan untuk pengamannya sendiri dan memasang pada dikala memanjat dan belayer tetap pada posisinya dibawah untuk membelay. Pada titik-titik tertentu si pemanjat akan menciptakan picth (station belay) untuk membelay si pemanjat kedua (belayer), belayer akan memanjat sambil membersihkan semua pengaman yang dipasang oleh leader hingga keduanya berhasil berada diatas (top).

III. Jenis Panjat Tebing Berdasarkan Lama Pemanjatan Dan Ketinggian Jalur


Berdasarkan lamanya waktu pemanjatan dan ketinggian jalur, jenis panjat tebing terbagi menjadi beberapa macam antara lain :

3.1 Bouldering

Bouldering yaitu memanjat bebatuan besar atau tebing berukuran kecil, bouldering tidak memerlukan peralatan yang rumit menyerupai pemanjatan lainnya, untuk keamanan si pemanjat hanya dengan crashpad ini alasannya yaitu rute pemanjatan tidak terlalu panjang.

Gerakannyapun biasa tidak ke atas tetapi kesamping (traverse) atau diagonal. Selain punya kelas sendiri dalam panjat tebing banyak fungsi lain dari melaksanakan bouldering diantaranya yaitu :
  • Sebagai pemanasan sebelum melaksanakan panjat tebing
  • Melatih gerakan-gerakan yang sulit
  • Juga mempunyai kegunaan untuk melatih daya tahan (endurance)

3.2 Crag Climbing

Crag climbing yaitu memanjat tebing yang lebih tinggi, system yang digunakan bebas dan biasanya dalam merampungkan rute digunakan dengan cara memasang picth (station belay), picth disini ternagi 2 (dua) yaitu :

a. Single Picth Climbing

Pada memanjatan jenis ini hanya dipasang 1 picth (station belay) diatas yang mempunyai kegunaan untuk mengamankan si pemanjat kedua untuk naik.

b. Multi Picth Climbing

Untuk jenis ini biasa dilakukan di tebing yang lebih tinggi alasannya yaitu harus melaksanakan pergantian leader dalam proses pemanjatannya, setiap pemanjat akan bergantian di picth yang telah ditentukan. Dalam satu jalur bisa terdapat beberapa picth (station belay).

3.3 Big Wall Climbing

Big wall disini berrarti tebing yang berukuran sangat besar juga tinggi, untuk merampungkan pemanjatan biasa membutuhkan waktu berhari-hari dengan peralatan yang sangat lengkap.

Big wall climbing yaitu jenis pemanjatan termahal dibanding jenis-jenis pemanjatan lainnya dalam panjat tebing. Dalam melaksanakan pemanjatan big wall climbing terbagi lagi menjadi 2 (dua) system yaitu :


3.3.1 Alpine Tactic

Sistem alpine tactic yaitu dimana sipemanjat tidak turun lagi ke bawah dikala sudah memulai pemanjatan jadi semua peralatan pemanjat hingga perlengkapan tidur di bawa serta keatas hingga berhasil kepuncak, Kaprikornus bisa dikatakan pada pemanjatan jenis ini :

  • Waktu pemanjatan biasa lebih singkat
  • Peralatan yang digunakan lebih sedikit
  • Perlu dilakukan load carry


3.3.2 Himalaya Tactic

Pada system ini si pemanjat akan turun kebawah biasa pada sore hari untuk istirahat di basecamp sambil menyiapkan pemanjatan untuk keesokan harinya, tentu peralatan sebagian masih tertinggal di atas untuk memudahkan pemanjatan dihari berikutnya, dan ini terus dilakukan hingga berhasil menuju ke puncak. Kaprikornus pada Himalaya tactic :


  • Waktu pemanjatan biasa lebih lama
  • Peralatan yang dibutuhkan juga menjadi lebih banyak
  • Tapi tidak membutuhkan load carry


Jenis Panjat Tebing Berdasarkan Kondisi Medan Dan Tingkat Kesulitan



4.1 Berdasarkan Kondisi Medan Pemanjatan


Berdasarkan Kondisi medan teknik panjat tebing terbagi menjadi 6 tingkat, gotong royong penjabaran ini berlaku juga dikala mendaki gunung. Diantaranya yaitu :

Klas I - Posisi tubuh masih tegak lurus berjalan tanpa peralatan
Klas II - Medan sudah agak sulit dan perlu pinjaman kaki dan tangan
Klas III - Medan mulai agak curam an sudah perlu teknik tertentu
Klas IV - Sudah mulai sulit, tali sudah digunakan sebagai pengaman
Klas V - Semakin sulit dan semakin banyak diharapkan pengaman
Klas VI - Pemanjatan sepenuhnya bergantung pada alat pengaman

4.2 Berdasarkan Tingkat Kesulitan

Berdasarkan Tingkat kesulitan (grading system) panjat tebing terbagi dalam beberapa tingkatan, antara lain :

a. Franch Grading System

Sistem ini banyak di gunakan di Negara-negara eropa menyerupai francis, pada system ini tingkat kesulitan di hitung berdasarkan pergerakan dan panjang atau tinggi lintasan medan pemanjatan.

Penulisannya menggunakan system penomoran dimulai dari nomor 1 yang artinya sangat mudah (very easy) dengan system terbuka artinya memungkinkan penambahan abjad dibelakangnya, teladan : 1, 2, 5b, 6c dst, juga memungkinkan penambahan + untuk tingkat kesulitan yang lebih contohnya 7c+. Walau secara umum system ini digunakan di Negara-negara eropa tidak berarti tingkat kesulitannya sama pula.

b. Yosimete Decimal System

Sistem perhitungan ini digunakan di amerika dan menyebar ke Kanada juga ke daerah amerika lainnya, juga kenegara negara di asia termasuk Negara kita Indonesia umumnya menggunakan system ini. System ini mengacu pada 5 tingkat yang disusun oleh Sierra Club, yaitu :

KELAS 1
Pada kelas ini perjalanan biasanya tidak membutuhkan pinjaman tangan untuk mendaki atau menambah ketinggian. Disebut juga Cross Cuntry Hiking

KELAS 2
Pada kelas ini pendakian atau pemanjatan sudah memerlukan sedikit pinjaman tangan tapi masih bisa dilakukan tanpa tali di sebut juga Scrambing.

KELAS 3
Sedikit diatas scrambing dengan medan bebatuan, menguasai teknik memanjat sangat membantu disini dan untuk pendaki yang kurang pengalaman sanggup menggunakan tali sebagai pengaman, disebut juga Easy Climbing.

KELAS 4
Pada kelas ini tali sudah digunakan untuk pengaman yang dipasangkan di titik-titik anchor (penambat) baik anchor alami ataupun anchor buatan. Disebut juga Rope Climbing With Belaying.

KELAS 5
Sampai pada system decimal yang menggunakan angka 5 berarti medan pemanjatan sudah sepenuhnya menggunakan tali dan dibutuhkan penguasaan teknik pemanjatan yang baik untuk hingga keatas. Standar tingkat kesulitan ini dibentuk oleh amerika dibagi menjadi 11 tingkatan dimulai dari 5.1 hingga 5.14, semakin tinggi angka dibelakang 5 berati semakin sulit tingkat rute pemanjatan.

GRADE 5.7 dan 5.8 ini mengambarkan tingkat kesulitan yang sangat mudah, dijalur pemanjatan masih banyak pegangan dan pijakan yang sangat banyak, berukuran besar praktis didapat dan sudut kemiringannyapun belum 90 derajat.

GRADE 5.9 ditingkat ini jalur pemanjatan sudah mulai sulit ini ditandai dengan jarak antara pegangan dan pijakan sudah mulai berjauhan walau demikian masih dalam jumlah yang banyak berukuran besar.

GRADE 5.10 pada tingkat ini jalur pemanjatan sudah lebih sulit alasannya yaitu komposisi pegangan dan pijakan sudah bervariasi ada yang besar dan ada yang kecil dan jarak antar pegangan juga pijakan pun sudah mujlai berjauhan, terdapat dua referensi tangan dan satu referensi kaki  jadi factor keseimbangan sangat besar lengan berkuasa ditingkat ini.

GRADE 5.11 dan 5.12 tingkat kesulitan semakin tinggi ini dikarenakan letak antara pegangan sudah mulai berjauhan kecil-kecil bahkan banyak yang hanya bisa dipegang oleh beberapa jari saja. Posisi kakipun sudah mulai melebar semoga tetap bisa melaksanakan referensi untuk pijakan berikutnya. Factor keseimbangan tubuh sangat berpengaruh. Bentuk tebing pada lintasan pun sangat bervariasi antara tebing gantung dan atap (roof).

GRADE 5.13 dan 5.14 ini tingkat tersulit untuk dikala ini, kondisi jalur hampir mulus menyerupai kaca, dibutuhkan teknik, kekuatan dan daya tahan yang sangat cantik untuk bisa merampungkan rute ini. Dimana referensi untuk pegangan dan pojakan sangat minim di tingkat ini. Tak jarang pemanjat hanya bertumpu pada satu kaki dan satu tangan. Teknik gesekan (friction) sudah sering digunakan bahkan fungsi kaki sesekali bermetamorfosis tangan (hooking) ditingkat ini.

4.3 KELAS A

Sistem pada kelas ini mengambarkan seorang pemanjat atau pendaki harus menggunakan alat, kelas ini dibagi menjadi 5 (lima) tingkatan yaitu A1 hingga A5. Misalkan :

Pada rute pemanjatan di tebing dengan grade 5.5 tidak bisa dilewati tanpa pinjaman alat A3, ini artinya tingkat kesulitan tebing tersebut menjadi 5.5 – A3

Masih ada beberapa pembagian kelas lagi dalam pengkategorian tingkat kesulitan dalam acara mendaki/panjat tebing ini menyerupai Ewbank System, British Grading System, Brazilian Grade System, Alaska Grade System dan Alpine Grade System dan akan penulis bahas dilain kesempatan.

Definisi Motto Dan Etika Dalam Panjat Tebing





5.1 DEFINISI PANJAT TEBING


Panjat tebing yaitu salah satu jenis acara olahraga di alam bebas yang menitik beratkan pada kemampuan merampungkan setiap rute pada permukaan tebing. Panjat tebing tentu tidak bisa hanya dilakukan dengan berjalan kaki. Kemampuan membaca jalur, mempunyai kekuatan, dayatahan dan kelenturan serta bisa dekat dengan setiap pegangan dan pijakan sangat dibutuhkan dalam olahraga yang satu ini, berbicara soal andrenaline tampaknya hampir semua olahraga yang berbasis alam bebas selalu sanggup memicu andrenaline. Pada umumnya panjat tebing dilakukan di kontur bebatuan tebing yang keras dengan posisi permukaan tebing bervariasi mulai dari sudut 90 derajat, 45 derajat, hingga 180 derajat.

Pada perkembangannya panjat tebing dikala ini bukan hanya sebatas olahraga alam, dilihat dari tujuannya panjat tebing terbagi beberapa macam, antara lain :

Panjat tebing untuk kepuasan pribadi - disini pelaku melaksanakan acara panjat tebing murni untuk kepuasan pribadi atau hobby, menciptakan rekor pribadi, mengukur batas kemampuan diri sendiri dan aneka macam motivasi lainnya.

Panjat tebing untuk mengejar prestasi - pemanjatan untuk tujuan prestasi umumnya dilakukan di dinding panjat membawa nama pribadi, club atau organisasi hingga negara dan dibina mulai dari usia bawah umur untuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan mulai tingkat daerah hingga kejuaraan internasional. Di Indonesia tubuh yang membawahi olahraga ini yaitu FPTI (Feredeasi Panjat Tebing Indonesia).

Panjat tebing sebagai mata pencaharian - pada tahap ini panjat tebing sudah sebagai acara profesi untuk mencari nafkah, dengan kemampuan memanjat serta licenci yang dimiliki ia  bisa bekerja di aneka macam bidang dengan medan vertical. contohnya  adalah orang-orang yang bekerja di ketinggian.

5.2 MOTTO PANJAT TEBING

Motto terkenal dalam olahraga panjat tebing yaitu Otak, Otot, Nasib. Motto ini bisa diartikan sebagai berikut :

OTAK

Ini berarti seorang pamanjat tebing harus mempunyai kemampuan khusus dan menguasai teknik-teknik pemanjatan menyerupai membaca jalur, teknik gerakan, pegangan serta pijakan yang baik juga bisa menggunakan peralatan memanjat dengan baik.

OTOT

Ini berarti seorang pemanjat selain harus mempunyai kemampuan teknis juga harus mempunyai kemampuan fisik yang baik. Seperti mempunyai kekuatan, daya tahan dan kelenturan tubuh yang baik, tentunya ini tidak  bisa didapat secara instan, semua harus melalui proses latihan yang terus menerus.

NASIB

Setelah Otak dan Otot factor terakhir yang menentukan suksesnya sebuah pemanjatan yaitu factor nasib atau factor keberuntungan, selalu berdoa sebelum memanjat dan selalu waspada yaitu cara terbaik untuk mendapatkan hal tersebut.

5.3 ETIKA DALAM PANJAT TEBING

Dalam setiap acara atau olahraga niscaya ada tabiat atau kode etik yang harus dipatuhi apalagi olahraga yang dilakukan di alam bebas, tujuannya yaitu semoga proses acara berjalan dengan kondusif dan lancar juga meminimalisir kerusakan alam yang pada balasannya asset alam tersebut akan selalu terjaga dengan baik. Begitu juga dengan olahraga panjat tebing, beberapa tabiat atau kode etik tersebut antara lain :

  • Pemanjatan pertama bisa melaksanakan pencucian membuka jalur akan tetapi harus meminimalisir kerusakan flora dan bebatuan asli.
  • Dilarang merusak pegangan dan pijakan
  • Meminimalisir penggunaan Piton. Bor digunakan hanya sebagai alternative terakhir, begitu juga penggunaan magnesium hanya pada dikala dibutuhkan saja.


VI. Organisasi Dalam Panjat Tebing



Seperti halnya olahraga bola kaki dengan tubuh organisasi tertingginya yaitu FIFA begitu juga dalam olahraga panjat tebing juga mempunyai organisasinya sendiri, berikut ini penulis akan membahas mulai dari organisasi tertinggi hingga organisasi panjat tebing yang ada di Indonesia.





6.1 UIAA (Union Internationale des Associations d'Alpinisme)

UIAA yaitu tubuh dunia yang bertanggung jawab terhadap semua duduk masalah mencakup study dan solusi wacana gunung. Terbentuk di Chamonix, Francis pada bulan agustus tahun 1932.

Dikala itu ada 20 asosiasi gunung bertemu untuk kongres alpine. Salah satu tugasnya yaitu melaksanakan licency untuk peralatan pendaki ataupun panjat tebing. Makanya untuk dikala ini semua peralatan memanjat layak digunakan kalau sudah ada lisensi dari UIAA.



6.2 IFSC (International Federation of Sport Climbing)

IFSC atau dalam bahasa indonesianya Federasi Internasional Panjat Tebing yaitu sebuah tubuh organiasi yang terbentuk pada tanggal 27 Januari 2007 yang merupakan kelanjutan dari rapat dewan untuk kompetisi panjat tebing dunia yang didirikan pada tahun 1997. IFSC yaitu sebuah organisasi not profit non pemerintah, ini yaitu tubuh resmi dunia untuk penyelenggaraan kompetisi memanjat tingkat olimpiade.

Tujuan dari tubuh ini yaitu untuk mengatur, mengarahkan, mempromosikan, dan melaksanakan pengembangan terus menerus terhadap olahraga panjat tebing dan kompetisinya di seluruh dunia.



6.3 FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia)

FPTI yaitu tubuh tertinggi yang menaungi olahraga panjat tebing di indonesia, terbentuk tanggal 21 april 1998. Tujuan utama dari organisasi ini yaitu melaksanakan pembinaan demi tercapainya prestasi dalam olahraga panjat tebing baik di tingkat nasional maupun internasional.

Selain itu FPTI juga bertujuan memupuk persaudaraan dan persahabatan antar bangsa. FPTI sendiri sudah menjadi anggota UIAA pada tahun 1992, dan dua tahun setelahnya gres menjadi anggota KONI yaitu tahun 1994, dan menjadi anggota IFSC pada tahun 2007. Sampai dikala ini FPTI sudah mempunyai 25 Pengurus Cabang (PENGCAB) mulai dari Aceh hingga Papua dan mungkin akan terus bertambah.


6.4 BSAPI (Badan Standarisasi Pemanjat Indonesia)

BSAPI yaitu forum independen yang bertugas mengembangkan, memelihara, dan mengelola standar pemanjat indonesia. Fungsi dari BSAPI ini antara lain menerbitkan dan mengelola database untuk aktifitas, peralatan dan juga kemudahan olahraga panjat tebing di Indonesia.

Dengan standard an sertifikasi dari BSAPI masyarakat pengguna menerima kepastian aturan mengenai status pelaku aktifitas, kemudahan atau pembuat produk panjat tebing.

6.5 LPS (Lembaga Pelatihan dan Sertifikasi) Panjat Tebing Indonesia

LPS panjat tebing Indonesia yaitu sebuah forum independen yang bangkit pada tanggal 28 Oktober 2010 dan menjadi sebuah forum dengan akte notaris yang dibentuk tanggal 9 mei 2011.

Tujuan utama dari forum ini yaitu mengelola pembinaan dan sertifikasi panjat tebing di Indonesia. Disetiap propinsi ada pengurus tingkat kota ataupun kabupaten. LPS Panjat tebing Indonesia sudah menerima ratifikasi dari Lembaga Akreditasi Nasional Keolahragaan (LANKOR).

VII. Bagian - Bagian Dari Permukaan Tebing


Dalam olahraga panjat tebing tentu yang menjadi media tempat memanjat yaitu tebing kalau dinding namanya panjat dinding, seorang pemanjat yang baik tentu harus mengetahui seluk beluk wacana olahraga yang digemarinya, termasuk juga pengetahuan wacana media tebing itu sendiri.

Penting untuk diketahui alasannya yaitu disitulah nanti tempat kita berpegang juga berpijak sewaktu memanjat. Sebuah tebing mempunyai bagian-bagiannya sehingga membentuk tebing yang utuh mulai dari bab bawah hingga atas, dibawah ini yaitu bagian-bagian dari permukaan tebing yang harus diketahui :

BLANK – ini yaitu permukaan tebing yang tegak lurus membentuk sudut 90 derajat atau disebut juga vertical, biasanya ini yaitu bentuk permukaan tebing yang paling luas daripada bentuk permukaan tebing yang lain.


OVER HANK – ini yaitu bentuk permukaan tebing yang miring besar sudut kemiringannya antara 10 – 80 derajat, semakin kecil sudutnya tentu semakin besar perjuangan yang dibutuhkan untuk bisa melewatinya.

ROOF – roof atau atap, ini yaitu bentuk permukaan tebing dengan sudut 0 – 180 derajat, bab ini biasanya tidak terlalu panjang pada sebuah tebing, dan mungkin bab tersulit alasannya yaitu pemanjat harus merangkak horizontal dengan posisi dinding diatas dan tubuh dibawah. Lagipula kalau harus melewati bentuk permukaan yang menyerupai ini disarankan jangan berlama-lama diarea tersebut alasannya yaitu sangat menguras tenaga.

TERAS – secara spesifikasi sama dengan roof,mempunyai sudut 0 – 180 derajat, hanya saja teras yaitu kebalikan dari roof. Dalam pemanjatan multipicth, teras biasa dijadikan tempat memasang picth (station belay) untuk membelay pemanjat kedua.


TOP – bab simpulan dari sebuah tebing, tujuannya para pemanjat, walau gotong royong top bagi pemanjat tidak selalu harus kepermukaan paling atas dari tebing, bisa saja top itu di runner terakhir yang terpasang.

VIII. Persiapan Sebelum Panjat Tebing


Sebaiknya sebelum memulai memanjat anda ditemani oleh seorang yang sudah cukup terlatih dibidang olahraga ini, hal ini alasannya yaitu olahraga panjat tebing gres berjalan kalau dilakukan setidaknya oleh dua orang, seorang bertindak sebagai pemanjat dan seorang lagi membelay, kecuali untuk bouldering dan itupun kalau anda sudah cukup mahir kalau belum sebaiknya juga ditemani oleh seorang patner yang sudah mahir, selain berfungsi untuk membackup dikala anda terjatuh anda akan banyak berguru cara memanjat dari patner anda.

Untuk pemula ada baiknya melaksanakan pemanjatan di dinding panjat terlebih dahulu, ini sangat bermanfaat untuk melatih mental dan teknik, teknik disini bukan hanya kemampuan dalam menguasai gerakan tetapi juga kemampuan menggunakan peralatan panjat sesuai dengan mekanisme selain itu juga untuk meminimalisir kecelakaan yang bisa saja terjadi, alasannya yaitu bagaimanapun terbentur di dinding papan atau fiber tidak secetar di tebing asli. Saat ini hampir semua dareah sudah ada tempat untuk memanjat baik itu papan panjat dari Pengurus Cabang Federesi Panjat Tebing Indonesia ataupun dari komunitas panjat tebing yang sudah mulai banyak di setiap daerah.

Jangan ragu untuk mulai bergabung dengan komunitas - komunitas panjat tebing ataupun organisasi panjat tebing menyerupai FPTI, mereka akan sangat terbuka untuk mendapatkan setiap orang yang suka dengan olahraga ini. Bagi sebagian orang olahraga ini agak ‘seram’ kalau dilihat tetapi percayalah kalau sudah mencobanya anda malah ketagihan.

Beberapa persiapan atau mekanisme yang harus dilakukan sebelum melaksanakan pemanjatan antara lain :

8.1 MELAKUKAN PEMANASAN (WARMING UP)

Tidak hanya dalam olahraga panjat tebing, pemanasan yaitu hal wajib yang harus dilakukan sebelum kita memulai sebuah olahraga, apalagi untuk panjat memanjat yang membutuhkan kekuatan, kelenturan dan variasi gerakan yang sangat komplek. Lagipula manfaat dari melaksanakan pemanasan yaitu semoga tubuh tidak cedera dikala latihan memanjat. Lakukan pemanasan dengan serius mulai dari kepala hingga kaki terutama di tempat-tempat yang renta terhadap cedera menyerupai leher dan sendi lainnya. Pemanasan bisa dilakukan selama 10 menit hingga 30 menit.

8.2 MELAKUKAN PEMERIKSAAN TERHADAP PERALATAN MEMANJAT

Melakukan investigasi peralatan yaitu hal wajib yang harus selalu dilakukan sebelum dan setelah memanjat, ini alasannya yaitu dikala memanjat kita menggantungkan hidup pada peralatan tersebut, perhatikan apakah peralatan sudah sesuai dengan standar UIAA dengan kata lain semua peralatan harus berlisensi UIAA mulai dari harness, tali karnmantel dan lain sebagainya, perhatikan juga fisiknya alasannya yaitu sangat berbahaya untuk menggunakan peralatan yang sudah tidak layak pakai.

Perhatikan juga simpul-simpul yang digunakan haruslah sesuai standar alasannya yaitu kesalahan penggunaan simpul juga sanggup berakibat fatal, penggunaan simpul tali yang benar selain menciptakan kondusif juga akan memperpanjang umur tali, oleh alasannya yaitu itu bagi pemanjat pemula sangat penting untuk selalu di bimbing oleh yang sudah mahir mengingat olahraga ini sangat beresiko.

8.3 MELAKUKAN PENDINGINAN

Setelah melaksanakan latihan pemanjatan maka lakukanlah pendinginan, pendinginan pasca latihan berfungsi untuk mengembalikan fungsi otot kembali ke keadaan normal dan juga berfungi untuk memperabukan asam laktat yang menempel di setiap tendon-tendon, asam laktat ini lah yang menyebabkan munculnya rasa nyeri pada otot keesokan harinya. Lakukan pendinginan selama 5 menit hingga 15 menit selesai latihan.


IX. Teknik Dasar Umum Dalam Olahraga Panjat Tebing



Teknik dasar yang umum dalam panjat tebing disini yaitu hanya sebatas teknik gerakan dalam memanjat, hal ini harus dipahami ketika hendak memanjat tujuannya yaitu semoga proses memanjat menjadi lebih efektif jadi tidak ada energy yang terbuang percuma.

Walaupun dalam prakteknya tidak semua ketentuan-ketentuan dasar ini akan selalu dijumpai alasannya yaitu perbedaan jalur dan karakter setiap tebing akan tetapi prinsip dasar ini akan sangat membantu. Prinsip dasar yang harus diketahui yaitu :

  1. Pertahankan 3 (tiga) titik kontak, dikala memanjat ada 4 (empat) titik kontak yaitu kedua tangan dan kaki dan dalam proses memanjat sangat penting untuk tetap mempertahankan setidaknya 3 titik kontak, yaitu 1 (satu) kontak mencari pegangan atau pijakan sementara 3 (tiga) lainnya tetap menempel pada tebing. Cara menyerupai ini sangat membantu semoga otot tidak praktis lelah ditambah lagi dengan mendapatkan titik keseimbangan yang sempurna.
  2. Saat menggenggam pegangan pada tebing usahakan posisi tangan selalu lurus, gunakan jangkauan setinggi-tingginya dalam menggapai pegangan, ingat fungsi tangan semoga kita tetap menempel bukan menarik pegangan yang menbuat siku menjadi bengkok alasannya yaitu hal ini akan menciptakan otot tangan cepat lemas. Setelah meraih pegangan segera jatuhkan tubuh dengan menekuk kedua lutut dengan demikian posisi tangan akan menjadi lurus. Dengan posisi ini kerja otot tangan akan berkurang alasannya yaitu dibantu oleh otot pundak dan dada.
  3. Memanjat menggunakan kaki bukan dengan tangan, ini prinsip dasar memanjat yang terkadang sering dilupakan oleh pemanjat terutama pemanjat pemula. Ibarat memanjat tangga vertical menyerupai tangga di tower telekomunikasi, kita menggunakan kaki untuk memanjat yaitu dengan meletakkan kaki di anak tangga lebih dahulu gres mendorongnya keatas dan selalu kaki yang pertama di gerakkan gres diikuti dengan perpindahan tangan, ini alasannya yaitu tangan hanya digunakan semoga kita tetap menempel di tangga tersebut. jangan terbalik, bisa dibayangkan betapa sulitnya untuk naik anak tangga tersebut menggunakan tarikan tangan sementara kaki hanya sekedar menempel tidak bekerja. begitu juga dikala memanjat tebing gunakan kaki untuk menambah ketinggian bukan tangan, maksimalkan kerja kaki yaitu cara paling baik dalam proses memanjat.
  4. Dalam penguasaan teknik memanjat, pengetahuan wacana medan pemanjatan sangatlah penting, mengetahui jenis batuan tebing akan sangat membantu menentukan teknik apa yang diharapkan untuk merampungkan jalur tersebut, juga kemampuan membaca jalurpun harus diasah terus menerus semoga pemanjatan menjadi efesien. Prinsipnya 1 (satu), biarkan tebing yang mendikte kita untuk bergerak biarkan tebing yang mengarahkan kita semoga harus melaksanakan ini dan itu, proses inilah yang menciptakan pemanjat lebih dekat dan dekat dengan alam. Oleh alasannya yaitu itu mengetahui nama-nama gerakan, pegangan, dan pijakan menjadi sangat perlu dengan demikian kita akan mengetahui setiap teknik yang akan digunakan untuk merampungkan pemanjatan tersebut. Lagipula dengan mengetahui nama-nama gerakan, pegangan dan pijakan dalam memanjat kita akan praktis untuk berkomunikasi dengan pemanjat lain wacana bagaimana merampungkan satu jalur panjat tertentu.
  5. Aba-aba dalam panjat tebing yaitu cara seorang pemanjat berkomunikasi dengan rekan memanjatnya, bisa dengan belayer ataupun dengan memanjat lainnya. Hal ini penting semoga tidak terjadi misskomunikasi dikala proses memanjat, jangan biasakan berkomunikasi dengan cara sendiri yang hanya dimengerti oleh kalangan sendiri saja, akan tetapi gunakan bahasa yang telah disepakati dan telah digunakan oleh sesama pemanjat diseluruh dunia. Berikut ini beberapa arahan yang paling sering digunakan dikala memanjat :





X. Peralatan Dasar Dalam Panjat Tebing


Untuk mengetahui peralatan dasar dalam panjat tebing sangatlah banyak jenisnya, tergantung jenis pemanjatan yang dilakukan, peralatan untuk trad climbing contohnya akan sedikit berbeda dengan ice climbing, begitu juga peralatan untuk big wall climbing yang sangat banyak akan sangat tertolak belakang dengan beralatan yang biasa digunakan untuk bouldering.

Oleh alasannya yaitu untuk mempermudah pemahaman kali ini penulis hanya akan membahas peralatan yang biasa digunakan untuk sport climbing saja dan hanya yang paling sering digunakan saja akan tetapi peralatan ini secara umum hampir semua digunakan dibeberapa jenis pemanjatan lainnya.


TALI KERNMANTLE

Tali kernmantel atau biasa disebut tali karmantel yaitu tali yang paling terkenal digunakan dikala ini dalam olahraga panjat tebing. Kernmantle berarti tali yang terdiri dari inti (kern) yang diselimuti (mantle)  sebagai pelindung.

Ada 2 (dua) jenis tali kernmantle yang biasa digunakan yaitu statis dan dinamis keduanya berbeda dalam hal persentase kelenturannya akan tetapi sangat besar lengan berkuasa terhadap jenis penggunaan dan prilaku dalam perawatannya. Untuk lebih dalam duduk masalah tali tersebut akan penulis bahas dilain kesempatan.

Tali yang sering digunakan dikala memanjat yaitu dari jenis dinamis alasannya yaitu mempunyai tingkat kelenturan atau bisa merenggang hingga 30% dari total panjang tali dan ini sangat mempunyai kegunaan semoga tubuh tidak sakit dikala terjatuh.

Sementara tali jenis statis yaitu tali kaku yang hanya bisa merenggang hingga 5% saja, oleh alasannya yaitu itu sangat efektif digunakan untuk Single Rope Technic (SRT) tali statis ini menjadi tali wajib bagi para pekerja diketinggian (rope access) dan juga vertical rescue. Kedua jenis tali ini mempunyai panjang yang bervariasi mulai dari 50 meter, 60 meter, 75 meter juga 80 meter, tergantung keperluan yang niscaya semakin panjang tali akan semakin sulit untuk dikelola. Diameter talipun berbeda-beda mulai dari 9.1mm, 10.2mm, 10.5mm, 11mm dan masih banyak lagi.



HARNESS

Harness yaitu penghubung antara tubuh dengan tali, kenyamanan dikala digunakan sangat penting untuk diperhatikan alasannya yaitu salah satu factor yang buat tubuh tidak merasa sakit dikala terjatuh yaitu dengan menentukan harness yang sesuai, ukuran harness sama dengan menentukan pakayan mulai dari ukuran S, M, L, XL. Harness ada dua jenis yaitu seat harnees dan full body harness.

Untuk panjat tebing jenis seat harness paling banyak digunakan alasannya yaitu lebih sederhana sehingga tidak terlalu menggangu gerak tubuh. Sedangkan untuk Single Rope Technic (SRT) ataupun Vertical Rescue jenis Full Body Harness yang banyak digunakan.


SEPATU

Kalau memanjat dengan kaki telanjang kemampuan penggunaan kaki hanya 50% mungkin kurang maka dengan menggunakan sepatu panjat memampuan kaki akan menjadi 100%, jadi terang disini fungsi utama sepatu panjat bukan untuk melindungi kaki tetapi untuk memaksimalkan fungsi kaki setelah itu barulah untuk melindungi kaki.

Tanpa sepatu kita mungkin hanya bisa menggunakan tapak serta jempol kaki saja dikala memanjat itupun hanya untuk pijakan yang berukuran besar saja. Kita akan kesulitan untuk menggunakan bab kaki yang lain. 

Dengan menggunakan sepatu kita akan bisa menggunakan hampir seluruh bab kaki, baik itu menggunakan sisi dalam kaki (inside edge) atau sisi luar (outside edge), heelhook ataupun toehook dan lain sebagainya. Oleh alasannya yaitu itu biasakan menggunakan sepatu dalam memanjat, pemilihan sepatu yang nyaman sangat besar lengan berkuasa terhadap proses memanjat.

Sepatu dibentuk untuk mengurangi slip pada kaki, perbedaan antara satu merek dengan merek lainnya yaitu pada material sol sepatunya yang dirancang khusus. Katanya merek nomor satu untuk sepatu panjat dikala ini yaitu la sprotiva, ini bisa jadi kalau dilihat dari banyaknya pemanjat professional tingkat dunia yang menggunakan merek ini.



  1. Carabiner Oval
  2. Carabiner D
  3. Carabiner Asymmetrical D
  4. Carabiner Pear
  5. Carabiner dengan gerbang (gate) lurus
  6. Carabiner Bent Gate
  7. Locking Carabiner
  8. Wire Gate Carabiner

CARABINER

Carabiner atau cincin kait yaitu alat pengaman pada panjat tebing, hampir semua instalasi pada system tali temali pada panjat tebing menggunakan alat ini, terbuat dari materi alumunium alloy oleh alasannya yaitu itu alat ini sangat kuat dan ringan untuk digunakan.

Ada banyak tipe carabiner tapi secara umum hanya ada 2 (dua) tipe yang paling sering disebut yaitu carabiner jenis snap dan screw. Berbicara duduk masalah bentuk carabiner sangat bervariasi. Selalu perhatikan kondisi carabiner semoga selalu dalam keadaan bagus, alasannya yaitu retak seukuran rambut saja bisa mengurangi kekuatan carabiner hingga 50%. Perhatikan juga gate pada carabiner kalau macet segera dibersikan semoga kembali normal.


BUBUK MAGNESIUM DAN KANTONGNYA

Bubuk kapur magnesium carbonate (MgCO3) menjadi barang wajib dikala memanjat alasannya yaitu fungsinya yang sangat bermanfaat yaitu untuk menyerap keringat yang ada pada telapak tangan, tangan yang berair sangat sulit untuk mencengkram tebing, resikonya kita akan terlepas dari jalur.

Tangan akan cepat sekali berkeringat dikala memanjat salah satu faktornya yaitu alasannya yaitu tingkat stress yang tinggi dikala memanjat. Maka tidak heran ketika melihat seorang pemanjat sering kali memasukkan tangannya ke kantong kapur (chackbag). Chackbag yaitu kantong tempat diisi bubuk kapur yang diikat di sisi belakang pinggang pemanjat.

Saat ini bentuk kapur ada beberapa variasi mulai dari berbentuk kotak yaitu kapur yang sudah dipadatkan, bubuk, dan bentuk bola kantong yaitu bubuk kapur yang dimasukan dalam bola kain, selain itu ada juga dalam bentuk gel atau lotion, tapi umumnya di Indonesia penggunaan pakai bubuk masih terlalu populer, penulis pun lebih suka pakai bubuk, lebih gaya aja dikala digunakan walau sesekali buat batuk. Pemakaian bubuk magnesium ini pertama kali di populerkan oleh john gill, yang dikenal juga sebagai pencetus bouldering di USA.



QUICK DRAW / RUNNER

Di Indonesia lebih terkenal di sebut runner yaitu alat penghubung antara bolting yang tertanam pada tebing dengan tali panjat, runner terbentuk dari dua buah carabiner yang dihubungkan dengan sebuah sling. Runner tersedia dalam aneka macam macam ukuran mulai dari yang pendek, sedang juga yang panjang. Agar jalur tali dan beban pada setiap runner seimbang dibutuhkan keahlian tersendiri dalam memasang ukuran runner pada jalur panjat. 



BELAY DEVICE

Belay Device atau alat belay yaitu sebuah alat yang berfungsi untuk menghentikan laju tali, terpasang pada belayer untuk mengamankan sipemanjat dikala terlepas dari tebing ataupun bisa juga terpasang pada si pemanjat disaat akan menuruni tebing (rapperling). Bentuk belay device yang paling umum yaitu menyerupai angka 8 biasa disebut figure of eight,terbuat dari materi yang sama dengan carabiner, figure of eight ini yaitu alat belay paling merakyat, paling banyak digunakan mungkin alasannya yaitu lebih murah dan instalasinya yang praktis dan cepat. Belay device ATC produksi Black Diamond atau pun Reverso dari Petzl  juga tidak kalah terkenal untuk dikala ini. 

Selain 3 (tiga) jenis alat belay diatas, ada 1 (satu) lagi yang juga sangat diminati sebagai alat belay yaitu Grigri produksi Petzl, walau alat ini lebih mahal tapi sebanding dengan fungsi yang dimilikinya. Grigri bekerja otomatis, alat ini akan otomatis menggunci dikala dibebani jadi bisa membelay dengan sendirinya. Dari semua alat belay grigri mempunyai tingkat keamanan paling tinggi, kelemahannya yaitu ia hanya bekerja sesuai dengan ukuran tali yang telah ditentukan dan tidak efektif untuk tali berair atau beku.


HELMET

Alat pelindung kepala sangat mempunyai kegunaan dikala memanjat mengingat kepala yaitu alat paling vital dan paling rentan terjadi kecelakaan, lagipula tampaknya ini yaitu satu-satu alat yang digunakan sebagai pelindung dikala memanjat. Bahaya kearah kepala bisa timbul dari pecahan kerikil yang jatuh dari atas ataupun tubuh yang terayun keras membentur kearah permukaan tebing. Mungkin helm kurang diperhatikan untuk pemanjatan di dinding panjat tetapi menjadi berbeda dikala kita memanjat di tebing asli.



WEBBING

Tali berbentuk pita ini sangat banyak keuntungannya dalam olahraga panjat tebing, terdiri dari dua macam ada webbing sigle dan webbing double. Sling yaitu webbing yang di loop atau di bentuk melingkar kemudian disimpul. Salah satu fungsi sling dari webbing ini yaitu untuk menciptakan anchor bisa juga untuk menciptakan runner, harness dan lain sebagainya.

Dengan beberapa peralatan diatas, anda sudah bisa melaksanakan olahraga panjat tebing. akan tetapi untuk menciptakan jalur panjat pada tebing dibutuhkan beberapa peralatan lain menyerupai bor baik itu bor listrik ataupun bor tangan, palu, bolting, skyhook, brush dan lain-lain, akan penulis bahas dilain kesempatan dimasalah pembuatan jalur untuk panjat tebing.

XI. TEKNIK DASAR GERAKAN DALAM PANJAT TEBING

Secara umum dikala memanjat tebing hanya ada 3 (tiga) teknik yang dilakukan yaitu teknik gerakan, pegangan dan pijakan, terlepas dari teknik penggunaan alat. Pelajari semuanya minimal ketahui yang paling sering digunakan atau yang paling banyak dijumpai dikala memanjat, ini sangat mempunyai kegunaan dikala anda akan membaca jalur sebelum pemanjatan selain itu dengan mengetahui jenis dan nama-nama gerakan, pegangan dan pijakan anda tidak kebingungan dikala rekan anda memberi petunjuk bagaimana cara merampungkan satu jalur pemanjatan dengan bahasa standar dalam olahraga panjat tebing.

Secara umum kalau dilihat dari bentuk permukaan tebing, hanya ada 3 (tiga) jenis bentuk permukaan dan cara pemanjatannya, yaitu :

- Face Climbing
- Friction/ Slab Climbing
- Fissure Climbing

11.1 FACE CLIMBING

Face climbing yaitu teknik memanjat di permukaan tebing yang mempunyai tonjolan ataupun rongga yang memadai untuk dijadikan pegangan, pijakan dan menjaga keseimbangan tubuh. Bentuk ini yaitu yang paling banyak ditemui pada sebuah tebing, wall climbing atau dinding panjat umumnya juga yaitu face climbing.

Setidaknya ada 5 (lima) gerakan yang paling sering digunakan untuk face climbing, antara lain :

- Outside Edge
- Flag
- Twislock
- Dropknee
- Frog

1. OUTSIDE EDGE

Outside edge yaitu gerakan dengan posisi pijakan menggunakan ujung kaki  sisi bab luar, posisi ini paling banyak ditemui dikala memanjat, hanya dengan pertumpu pada satu kaki anda akan sangat praktis mendapatkan keseimbangan pada gerakan ini.


2. FLAG

Kalau outside edge bertumpu menggunakan kaki bab luar maka flag menggunakan ujung kaki bab dalam, flag juga praktis untuk mendapatkan keseimbangan tubuh walau hanya dengan bertumpu dengan 1 (satu) kaki. 


3. TWISLOCK

Teknik gerakan yang satu ini mempunyai arti setelah menemukan pijakan kemudian memutar posisi kaki tersebut sedemikian rupa sehingga bisa memperpanjang jangkauan tangan, sangat baik digunakan pada gerakan diagonal (diagonal movement).


4. DROP KNEE

Teknik gerakan ini hampir sama dengan twislock ada putaran pada antara salah satu kaki, perbedaannya ada pada lebar referensi kaki, dengan kata lain teknik ini benar benar menggunakan salah satu kaki sebagai tumpuan.


5. FROG

Dari namanya sudah tergambar bagaimana posisi tubuh pada teknik ini, dengan kedua kaki sejajar dan kedua lutut di tekuk posisi ini menyerupai mirip katak, salah satu posisi paling nyaman dikala memanjat alasannya yaitu dengan posisi ini tangan bisa lurus jadi tidak praktis lelah.


11.2 FRICTION / SLAB CLIMBING

Di Indonesia lebih terkenal disebut tebing slab, yaitu tebing yang tidak terlalu vertical tetapi mempunyai permukaan yang rata jadi untuk memanjatnya pun dengan teknik khusus biasa disebut teknik friction (gesekan). Gaya gesek terbesar sanggup diperoleh dengan cara membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu sangat berperan disini ditambah dengan pembebanan maksimal diatas kaki akan menciptakan pemanjatan jenis ini menjadi lebih mudah.


11.3 FISSURE CLIMBING

Teknik memanjat fissure ini dilakukan dengan memanfaatkan celah tebing, crack climbing masuk ke jenis ini, hanya saja pada fissure climbing celahnya masih sangat bervariasi, mulai dari celah yang hanya bisa dimasuki oleh jari-jari tangan hingga celah seukuran tubuh pemanjat bahkan hingga harus melebarkan kedua belah kaki untuk melewatinya. Dengan kondisi demikian artinya ada banyak teknik dalam fissure climbing ini tergantung lebar celah, antara lain :

1. JAMMING

Jamming yaitu teknik memanjat pada celah tebing yang tidak begitu besar, mulai dari celah yang hanya jari dan telapak tangan hingga sebagian pundak anda saja yang bisa masuk ke celah tersebut. pada jenis ini anda benar-benar hanya memanfaatkan celah (crack) pada dikala memanjat. Peralatan yang digunakanpun kebanyakan hanya pengaman sisip.


2. CHIMNEYING

Pada jenis ini celah sudah lebih lebar dari untuk bisa masuk seluruh tubuh, untuk melewati jalur jenis ini anda bisa menggunakan punggung yang ditempelkan di sisi tebing bab belakang dan menempelkan kaki di sisi tebing didepannya, kedua tangan juga ditempel disisi-sisi tebing untuk membantu gerak vertical anda.


3. BRIDGING

Bridging yaitu teknik memanjat celah vertical yang bisa dibilang cukup besar (gullies). Anda harus merentangkan kedua kaki dan tangan untuk bisa melewati jalur tersebut yaitu dengan posisi kaki mengangkang sebagai referensi ditambah dengan rentangan tangan untuk menjaga keseimbangan anda. 


4. LAY BACK

Teknik memanjat celah yang terbentuk di sudut tebing, satu sisi tebing berada di samping dan satu sisi lagi berada di depan. Celah biasanya tidak terlalu besar. Untuk memanjat jalur ini caranya yaitu dengan menempelkan kedua jari tangan ke celah dan menempelkan kedua kaki di sisi tebing yang terhadapan dengan kita. Kaprikornus dengan posisi tangan menarik dan kaki mendorong anda bisa bergerak vertical dengan cara ini.


5. HAND TRAVERSE

Teknik gerakan menyamping bisa horizontal ataupun diagonal dan hanya mengandalkan kekuatan tangan untuk melewatinya alasannya yaitu tidak ada pijakan dijalur tersebut, Butuh kekuatan jari yang besar dan juga teknik menggunakan kaki sebagai pengganti tangan untuk menggantung (hooking) semoga kerja tangan bisa lebih ringan.


6. MANTELSEFL

Teknik memanjat teras-teras kecil pada tebing yang letaknya agak tinggi tetapi cukup besar digunakan sebagai tempat berdiri. Kedua tangan digunakan untuk menarik tubuh dibantu dengan gerakan kaki. Kalau posisi teras setinggi dada maka tangan digunakan untuk menekan kebawah sehingga tubuh terdorong keatas. Memanjat dinding pagar beton atau dikala anda akan naik dari bak renang ke atas yaitu teladan dari gerakan ini.


Selain jenis-jenis gerakan diatas masih ada beberapa gerakan lagi yang biasa dilakukan dikala memanjat, yaitu :

11.4 REST

Teknik untuk menemukan tempat dan memposisikan tubuh senyaman mungkin untuk istirahat yaitu tujuan dari teknik ini. Kunci dari teknik ini yaitu sebisa mungkin beban tubuh ada pada pijakan jadi anda bisa melepaskan pegangan tangan secara bergantian untuk perenggangan. Perlu di ingat juga rest position juga dimanfaatkan untuk menentukan langkah pemanjatan selanjutnya.

11.5 CLIPPING

Clipping yaitu cara memasukkan tali pengaman yang ada di harness ke runner yang tersedia di jalur, sebisa mungkin salah satu posisi tangan dalam keadaan lurus dan tangan satunya lagi dengan cepat memasukan tali utama ke runner setelah runner dalam jangkauan. Perhatikan posisi gate carabiner sebelum melaksanakan teknik clipping dengan demikian anda dengan cepat bisa menentukan metode yang digunakan untuk memasukan tali.

11.6 DIPPING

Teknik dikala mengambil bubuk magnesium dikala dirasa perlu yaitu dengan cara memasukkan salah saatu tangan ke chackbag yang ada di pinggang bab belakang. Usahakan dikala mengambil magnesium dalam posisi menguntungkan.

11.7 STRIKE ARM

Teknik yang digunakan pada dikala rest position, clipping dan juga dipping, yaitu dengan memposisikan salah satu tangan yang menjadi referensi dalam keadaan lurus, posisi ini berfungsi semoga otot lengan tidak praktis lelah jadi bisa menghemat tenaga.

XII. TEKNIK DASAR PEGANGAN DAN PIJAKAN DALAM PANJAT TEBING

12.1 TEKNIK PEGANGAN

Sebenarnya jenis pegangan pada panjat tebing sangatlah banyak, akan tetapi penulis akan membahas beberapa yang paling sering digunakan dikala memanjat, antara lain :

1. JUG

Jug / bucket ini yaitu jenis pegangan yang paling disukai khususnya oleh para pemanjat pemula, bahkan ada yang menyebutnya dengan Thank-God Hold atau pegangan yang diberkahi tuhan. Bagi pemanjat yang sudah mahir kalau menemukan pegangan menyerupai ini bisa berhenti sejenan untuk ngopi atau makan indomie. Jug yaitu jenis batuan yang menonjol bisa digenggam oleh seluruh telapak tangan untuk menggantung bebas.


2. CRIMP

Crimp yaitu pegangan yang umumnya sangat digemari oleh pemanjat yang sudah mahir, pegangan yang tidak begitu besar tetapi sangat nyaman digenggam dengan menggunakan ke-empat jari tangan. Crimp digunakan pada dikala arah pegangan normal yaitu menghadap ke atas. Teknik ini terbagi 3 (tiga) macam yaitu Clouse Crimp, Open Crimp dan Half Crimp. Perbedaannya terletak pada posisi ibu jari.


3. SLOPPER

Sebuah tonjolan yang bentuknya menyerupai kurva, besar yang sangat bervariasi, dengan permukaannya yang halusmenjadikan jenis pegangan ini sangat sulit untuk digenggam dan menjadi salah satu jenis pegangan yang paling ditakuti oleh para pemanjat 


4. PINCH

Tonjolan kecil yang hanya bisa dipegang dengan cara dijepit dengan jari atau lebih menyerupai dicubit kalau bentuknya terlalu kecil. Kalau keseimbangan tubuh tepat pegangan jenis ini tidak begitu sulit sebaliknya kalau keseimbangan tubuh tidak tepat pegangan ini menjadi sangat menakutkan.


5. POCKET

Poket atau kantung yaitu jenis pegangan berbentuk lubang atau rongga di permukaan tebing yang tidak begitu besar, hanya muat beberapa jari saja bahkan ada yang hanya untuk satu jari saja. 


6. SIDEPULL

Pegangan yang berada di sisi samping pemanjat, cara memegangnya yaitu dengan memegang dengan arah yang berlawanan. Apabila posisi pegangan disebelah kiri maka tarikan atau bebannya kea rah kanan begitupula sebaliknya.


7. UNDERCUT

Undercut yaitu pegangan yang menyerupai dengan jug, yang membedakan yaitu arah pegangannya. Pada undercut pegangan dari arah bawah.  


 12.2 TEKNIK PIJAKAN

Dengan menggunakan sepatu panjat anda bisa memaksimalkan fungsi kaki, hampir seluruh bab dari kaki bisa dimanfaatkan untuk pijakan. Setidaknya ada 3 (tiga) jenis pijakan dalam panjat tebing yaitu : 

1. Menggunakan sisi samping sepatu baik sisi luar ataupun sisi dalam (edging)
2. Menggunakan bab bawah sepatu/tapak (smearing/frictions)
3. Menggunakan sisi sepatu bab belakang/tumit ataupun sisi bab atas (hooking).

1. EDGING

Edging yaitu teknik pijakan yang paling umum dan paling banyak dilakukan dikala memanjat, menggunakan sisi sepatu bab depan baik sisi luar ataupun bab dalam. Dengan menggunakan sepatu panjat anda bisa melaksanakan pijakan jenis ini walau pijakan itu sangat kecil dan mustahil dilakukan dengan kaki telanjang.


2. SMEARING

Smearing/frictions yaitu teknik pijakan menggunakan tapak sepatu, anda bisa menggunakan sebagian atau keseluruhan dari tapak sepatu untuk memanjat, apalagi dengan materi sol sepatu yang baik teknik ini sangat efektif pada jenis tebing dengan kemiringan kurang dari 90 derajat (slab).


3. HOOKING

Hooking yaitu teknik pijakan yang digunakan untuk mengganti fungsi tangan dikala menggantung atau menempel di tebing, ada 2 (dua) jenis hooking, yaitu :


HEELHOOK : yaitu teknik pijakan menggunakan sisi sepatu bab belakang atau tumit, biasa digunakan untuk mengganti fungsi tangan dikala menggantung sehingga berat tubuh akan terbagi dan menjadi lebih ringan, dengan teknik ini juga bisa menambah panjang jangkauan tangan.


TOEHOOK : mempunyai fungsi yang sama dengan heelhook tetapi menggunakan sisi sepatu bab atas, biasa dilakukan untuk jangkauan yang melebar ke samping.

XIII. SIMPUL - SIMPUL DASAR DALAM PANJAT TEBING

Mengingat panjat tebing yaitu salah satu olahraga alam bebas yang beresiko tinggi dan dalam kegiatannya hampir tidak pernah lepas dengan tali-temali, bahkan berdasarkan pengalaman penulis seorang pemanjat tebing lebih dipercaya oleh rekan-rekannya dalam urusan tali-temali dibanding dari bidang olahraga alam bebas yang lain. Oleh alasannya yaitu itu pengetahuan wacana simpul dan tali temali mutlak harus dikuasai oleh seorang pemanjat tebing.

Ada banyak sekali jenis simpul, tercatat ada sekitar 4000 jenis simpul yang ada didunia ini dalam aneka macam bidang penerapan, termasuk didalamnnya yaitu simpul dalam bidang panjat tebing. Tetapi yang perlu di ingat kita sudah bisa memanjat dengan menguasai beberapa simpul saja. Semua jenis-jenis simpul dibentuk tergantung dari tujuan, penggunaan, serta tingkat efektifitasnya. Terkadang kita membutuhkan sebuah simpul yang kuat tetapi yang praktis dilepas dilain waktu kita membutuhkan simpul yang kuat dan tidak praktis lepas dan lain sebagainya.

13.1 DIFINISI

Terdapat perbedaan antara simpul, tali dan jerat dan ini sering dicampur adukkan pengertiannya, padahal ketiga unsur tersebut sangat berbeda satu sama lainnya. Tali yaitu bendanya dan Simpul yaitu hasil bentukan dari dua buah tali atau lebih, sederhananya simpul yaitu pertemuan antara tali dengan tali. Sementara jerat yaitu pertemuan antara tali dengan benda lain bisa berupa kayu, batu, besi atau benda-benda lainnya. Contohnya yaitu Fisherman knot (simpul), Clovehitch (jerat), Karmantel (tali).

Untuk melihat simpul yang baik dan benar, bisa dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut :

- Praktis untuk dibuat
- Praktis untuk dilihat kebenaran lilitannya
- Aman, tidak praktis bergeser dan tidak bertumpuk dikala dibebani
- Praktis juga untuk dilepas
- Simpul harus seminimal mungkin mengurangi kekuatan tali

13.2 SIMPUL – SIMPUL DASAR DALAM PANJAT TEBING

Seperti yang telah disinggung diatas gotong royong sangat banyak jenis simpul termasuk yang biasa digunakan dalam panjat tebing, tapi bagi seorang pemanjat hanya butuh mengetahui beberapa simpul saja sudah bisa memanjat. Disini penulis membatasi simpul yang biasa digunakan pada jenis pemanjatan sport climbing tingkat pemula dengan jalur yang sudah tersedia. Berdasarkan pengalaman penulis hanya dengan menguasai 3 (tiga) jenis simpul ini kita sudah bisa untuk memanjat, antara lain :

FIGURE OF EIGHT FOLLOW THROUGH

Simpul ini yaitu salah satu variasi dari dasar simpul delapan (figure of eight), setidaknya ada 6 variasi dari simpul delapan yang penulis ketahui dan akan dibahas dilain kesempatan. Mengingat simpul ini yaitu simpul wajib yang harus dikuasai oleh setiap pemanjat.

Semua pemanjat harusnya hafal mati dengan simpul ini,karena hampir 90% pemanjat dunia menggunakan simpul ini. Kalau ada yang ngaku pemanjat namun tidak tahu simpul ini perlu dipertanyakan kemampuan memanjatnya ataupun jangan manjat sama dia.

Fungsi simpul ini yaitu sebagai simpul pengaman utama, simpul penghubung antara tali karmantel dengan harness si pemanjat juga sering digunakan sebagai simpul untuk menciptakan anchor. Cara membuatnya yaitu dengan terlebih dahulu menciptakan simpul depalan tunggal kemudian ujung talinya di masukan ke harness, setelah itu ujung tali dimasukan lagi mengikuti bentuk simpul delapan tunggal tadi. 

Kelebihan simpul ini yaitu :

- Simpul ini praktis dibentuk dan praktis diperiksa kebenaran lilitannya.
- Simpul ini mempunyai kekuatan 70% - 80% jadi lebih kuat dari simpul bowline.

Kelemahan simpul ini yaitu :

Kalau terlalu sering diberikan beban contohnya sering terjatuh akan sulit untuk melepas simpul ini. Tetapi menjadi laba kalau anda ingin terus memanjat alasannya yaitu tali terikat makin kuat. Salah satu cara melepasnya dengan memegang kedua sisi angka delapannya kemudian menggoyang-goyangkan tangan keatas dan kebawah dengan demikian simpul akan elastis dan praktis untuk dilepas.

FISHERMAN KNOT 

Simpul ini biasa disebut juga simpul nelayan, salah satu simpul terkuat untuk menyambung tali yang berbentuk bundar dan sama besar, sangat efektif digunakan pada kodisi kering ataupun berair dan licin. Cara membuatnyapun tidak terlalu rumit yaitu dengan menggabungkan kedua ujung tali dengan simpul double overhand knot. Dalam panjat tebing simpul ini biasa digunakan untuk menyambung tali yang akan dibentuk untuk anchor.


OVERHAND FOLLOW THROUGH

Simpul ke -3 (tiga) yang harus anda kuasai sebelum memanjat yaitu Overhand Follow Through atau Water knot, banyak juga yang menyebutnya dengan simpul pita, simpul ini mempunyai fungsi yang sama dengan simpul nelayan, perbedaannya ada pada penggunaan tali, simpul pita ini sangat efektif digunakan pada tali berbentuk pipih menyerupai webbing. Webbing sangat banyak keuntungannya dalam panjat tebing contohnya untuk menciptakan anchor ataupun runner dan lain sebagainya.