Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Budaya Teumuntuk, Adat Kebiasaan Bagi Pengantin Baru Saat Lebaran Tiba di Aceh


Teumuntuk adalah sebuah tradisi di Acehyang dilakukan oleh pengantin baru, baik dari pengantin perempuan (bahasa Jamee disebut binie, bahasa Aceh disebut inong) dan pengantin laki-laki (bahasa Jamee disebut laki, bahasa Aceh disebut lakoe) untuk menghormati orang tua mereka, tetua desa, tetangga, handai taulan serta karib kerabat dengan saling menjabat tangan yang dilakukan saat Hari Raya Idul Fitri tiba.


Setiap orang akan menjabat tangan pasangan baru sambil memberikan mereka uang (Jamee agih kepieng; Aceh jok peng) dengan memasukkan ke dalam tangan (genggaman istri atau suami).

Dalam bahasa Jamee istilah Teumuntuk dikenal dengan nama Teumuntuak, dan beberapa wilayah Aceh lainnya menyebutnya sebagai Seuneumah. Dilihat dari segi pembentukan kata, Teumentuk merupakan kata dasar dalam bahasa Aceh dan bukan kata berimbuhan. Ini dikarenakan tidak ada kata dasar ‘muntuk’ dalam pertuturan jika kata ‘teu‘ dipisahkan.

Saat ini, tradisi Teumuntuk tetap dijalankan di beberapa wilayah di Aceh seperti, Aceh Selatan, Aceh Utara, Aceh Barat Daya dan Aceh Besar. Namun, ada juga beberapa wilayah di Aceh yang tidak melaksanakan tradisi ini.

Tradisi Teumentuk saat berlebaran sebenarnya merupakan lanjutan prosesi Teumentuk yang telah dilakukan saat prosesi peusijuk (tepung tawari) pada adat perkawinan sebelumnya, baik dari acara di pihak laki-laki yaitu Preh Dara Baro (menunggu pengantin perempuan) atau acara perkawinan dari pihak perempuan yaitu Intat Linto (menjemput sang pengantin laki-laki). Pada Teumuntuk saat acara perkawinan, salam tempel diberikan kepada pengantin baru juga oleh keluarga pihak laki-laki maupun perempuan, kerabat dan para tetangga.

Menurut Abdul Manan dalam buku Ritual Kalender Aneuk Jamee di Aceh Selatan (Studi Etnorgafi di Kecamatan Labuhan Haji Barat), beliau menyebutkan bahwa sebelum tradisi Teumuntuk diakukan, biasanya dari pihak suami akan menginformasikan kepada keluarganya, tetangga dan sahabat, bahwa pasangan keluarga baru akan melakukan tradisi Teumuntuk.

Di zaman dahulu, selama dua minggu hari raya puasa, pihak suami mengirim bahan-bahan untuk membuat kue tradisional seperti tepung ketan (Jamee tapuang sipluik; Aceh teupong leukat), gula (Jamee gulo; Aceh saka), telur (Jamee talue; Aceh boh manok), minyak kelapa (Jamee minyak karambi; Aceh minyeuk u), kelapa (Jamee karambi: Aceh boh u) dan lain-lain. Sementara itu pihak istri menyiapkan uang kertas untuk teumuntuk kepada suami, juga menyiapkan kue-kue tradisional Aceh seperti juadah, wajeb, keukarah, dodoi, meuseukat, leumang dan lain-lain.

Pada hari raya puasa, kue-kue tradisional tersebut ditempatkan dalam sebuah panci khusus yang disebut jambalomang (bungkusan yang berisi kue-kue tradisional). Semua itu kemudian dibawa ke rumah mertua istri oleh seorang dari pihak istri. Tradisi uroe raya (hari raya) seperti ini disebut meulang jajak.

Ketika rombongan keluarga istri sampai ke rumah suaminya, mereka dihidangkan dengan makanan yang telah dimasak dan ritual pengembalian jambalomang dilakukan oleh seorang wanita tua atas nama pihak saudara istri dengan pihak suami.

Pihak suami kemudian mengambil seluruh isi dari jambalomang dan menaruh uang dan pakaian di dalamnya sebagai hadiah balasan. Istri melakukan sembah dengan bersalaman dengan orang tua suami diikuti oleh anggota keluarga istri satu persatu sambil meminta izin untuk meninggalkan rumah. Setelah bersalaman, rombongan istri meninggalkan rumah suaminya dengan mengambil kembali jambalomang yang telah diisi dengan pemberian dari pihak suami.

Namun saat ini, tradisi Teumuntuk dilakukan tanpa harus membawa jambolamang. Pasangan pengantin baru cukup bersilaturrahmi ke tempat pihak keluarga suami atau sebaliknya tanpa harus disertai oleh rombongan keluarga yang lain.

Setelah kembali dari rumah suami, suami-istri mengunjungi tetangga, petua adat dan sahabat dekat mereka. Dengan kunjungan ini, mereka juga membawa kue tradisonal yang ditempatkan di dalam talam. Ketika mereka tiba, sang istri memberikan talam tersebut bagi rumah yang dikunjungi sambil bersalaman.

Ketika mereka meninggalkan rumah, tuan rumah menyalami pasangan baru dengan uang kertas. Saat mereka kembali, talam yang berisi kue-kue tradisional tadi kemudian diisi pakaian sebagai pemberian balasan untuk rumah yang dikunjungi.

Jika pasangan baru tersebut mengunjungi orang-orang yang dekat dengan mereka, mereka biasanya memberikan (kue tradisional) yang biasa mereka dan menerima kembali lebih dari apa yang mereka berikan. Namun saat ini, pemberian balasan ini sudah jarang dilakukan dengan balasan kue tradisional lagi, dan hanya cukup dengan pemberian balasan berupa uang saja.

Kebiasaan Teumuntuk merupakan sebuah adat yang memiliki pengaruh yang sangat dalam bagi masyarakat. Jika pasangan yang baru menikah tidak melaksanakan ritual ini, mereka akan merasakan pernikahan tidak lengkap dan tidak punya adat/budaya. Akan terdengar ucapan dari keluarga, tetangga dan sahabat mereka yang bertanya “mengapa kamu tidak datang ke rumah saya dan mengenalkan istri kamu kepada kami” (Aceh; Ek hana ijak dan peuturi inong jih u rumoh loen).

Hal ini sangat memalukan dan akan berakibat berita yang buruk terhadap pasangan baru dalam bermasyarakat, karena mereka tidak menjalankan tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun.
Sumber : Manan A. 2013. Ritual Kalender Aneuk Jamee di Aceh Selatan

Jeungki Alat Penumbuk Padi Tradisional Yang Sudah Langka di Aceh

Selain dijadikan sebagai alat penumbuk gabah kering giling dan teupung, Jeungki bagi masyarakat Aceh terutama bagi ibu rumah tangga dan dara gampong, dapat juga dijadikan sebagai sarana olah raga

Travellink Jeungki, salah satu alat penumbuk padi di Aceh. Dulunya biasa digunakan Masyarakat Aceh di daerah pedesaan, dan saat ini sudah mulai langka di Aceh. Kelangkaan itu terjadi selama menjamurnya kilang padi mini (mesin gilingan gabah ukuran kecil) di berbagai desa, sehingga ibu rumah tangga cenderung membawa gabah kering giling ke kilang mini yang prosesnya lebih cepat.
Jeungki Alat Penumbuk Padi Tradisional
Jeungki, Alat Penumbuk Padi di Aceh
Masyarakat Aceh membuat Jeungki dari  pohon kayu mane yang dibuat dengan bagus dan penuh dengan seni.  Panjang Jeungki 2,5 meter dengan di ujungnya dibuat alu, biasanya untuk alu kayu yang lebih lunak diujungnya dibuat lesung juga dari pohon kayu mane atau kayu lainnya.

Dulunya, tiap rumah memiliki Jeungki, karena dengan Jeungki proses penumbukan gabah (padi) lebih  murni. Lebih-lebih kalau mendekati hari lebaran, banyak ibu rumah tangga di daerah pedesaan, mulai melakukan kegiatan menumbuk tepung (top teupong) sebagai bahan baku berbagai jenis kue persiapan dalam menyambut  tamu  lebaran yang datang ke rumahnya.

Selain dijadikan sebagai alat penumbuk gabah kering giling dan teupung, Jeungki bagi masyarakat Aceh terutama bagi ibu rumah tangga dan dara gampong, dapat juga dijadikan sebagai sarana olah raga, sebab  dengan adanya sitem penumbukan padi  dalam bahasa Aceh disebut  (Rhak Jeungki) dapat menguatkan otot-otot dan gerakan anggota tubuh bagi wanita gampong secara rutin, juga menjadi sebuah penghematan ekonomi dalam rumah tangga.

Kebiasaan wanita desa ramai-ramai melakukan menumbuk tepung (top teupong) sebagai menu kue persiapan menyambut hari lebaran, dalam sebuah jeungki ada empat-sampai lima wanita bekerja secara saling membantu. Bagi para gadis berdiri menginjak di ujung jeungki, sementara ibu rumah tangga duduk di pinggir lesung menjaga tepung sambil menghaliskan (hayak).

Dengan adanya Jeungki juga menjadi budaya saling membantu atau bekerjasama ibu rumah tangga dalam segala hal. Namun, selama langkanya Jeungki bagi wanita desa mulai renggang pula keakraban dan kebersamaan di dalam gampong.

Suatu hal paling disesalkan selama hilangnya Jeungki di Aceh, selain hilang kebersamaan dikalangan ibu rumah tangga. Juga yang paling sedih bagi anak-anak gadis desa di Aceh, banyak  tidak mengenal lagi jeungki alat penumbuk padi, selain itu para gadis juga tak mampu meracik kue.

Apalagi dalam beberapa tahun belakangan ini, menjadi kebiasaan tiap lebaran berbagai jenis kue dibeli di kota yang telah jadi diistilahkan “kue tunyok” atinya kue saat dibeli ditunuk, ini sekilo-itu dua kilo. Padahal, bagi masyarakat Aceh suatu hal seharusnya tak terjadi dan dapat menghilangkan budaya rakyat Aceh. Bahkan kue khas aceh  Timphan tidak mampu dibuat lagi. 
Sumber; acehshimbun

Ini Yang Patut Kamu Ketahui Tentang Tarian Purba Tor-Tor Dari Suku Batak Sumatera Utara

Tari Tor-Tor dikenal beberapa macam. Ada yang disebut Tor-Tor Pangurason atau tari pembersihan. Tari ini lazimnya digelar pada waktu pesta besar.


Tari Tor-Tor, Tarian Purba Dari Suku Batak - Tari Tor-Tor adalah salah satu jenis tari khas suku Batak, yang aslinya bernama Manortor. Menurut catatan sejarah, tari Tor-Tor digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh yang akan dipanggil, masuk ke dalam patung-patung batu yang merupakan simbol dari para leluhur. Sesuai dengan kepercayaan mereka, patung itu kemudian bergerak layaknya orang sedang menari. Gerakannya lebih kaku seperti kaki yang berjinjit-jinjit dan gerakan tangan lainnya.


Tari Tor-Tor
Tari Tor-Tor Suku Batak
Sedangkan bila di cermati dari jenisnya, tari Tor-Tor dikenal beberapa macam. Ada yang disebut Tor-Tor Pangurason atau tari pembersihan. Tari ini lazimnya digelar pada waktu pesta besar. Sebelum pesta laksanakan, lokasi tempat pesta terlebih dulu dibersihkan dengan mempergunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya.

Selanjutnya ada tari Tor-Tor Sipitu Cawan atau tari tujuh cawan. Tari ini lazimnya dilakukan saat menyambut sebuah acara besar pada saat pengukuhan seorang raja. Tarian ini pun berasal dari 7 (tujuh) putri kayangan yang mandi di sebuah telaga puncak Gunung Pusuk Buhit dengan bersamaan datangnya piso sipitu sasarung atau pisau tujuh sarung.


Yang Terakhir, ada tari Tor-Tor Tunggal Panaluan yang adalah suatu budaya ritual. Lazimnya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tarian ini diperankan oleh para dukun dengan tujuan agar mendapatkan jalan keluar untuk bisa menyelesaikan beragam masalah yang menimpa mereka. Karena tongkat tunggal panaluan merupakan perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah.


Pada perkembangannya, tujuan tari ini sudah mengalami perubahan. Dulu, tarian ini dilakukan untuk seremoni saat orang tua atau ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Tapi saat ini tarian Tor-Tor lazimnya cuma dilakukan ketika menyambut para wisatawan yang datang berkunjung.



Beragam Makna Gerakan Tari Tor-Tor



Tarian ini dilarang untuk dilakukan dengan sembarang gerakan. Para penarinya harus mengikuti sejumlah aturan yang sudah ada. Contohnya, ada pantangan yang di mana penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu ke atas. Bila itu dilakukan, maka sang penari dianggap siap menantang siapapun, baik dalam ilmu perdukunan, ilmu bela diri maupun ilmu tenaga dalam.

Pada dasarnya, ada empat gerakan dalam tari Tor-Tor. Pertama, adalah Pangurdot, yaitu gerakan yang dilakukan kaki, tumit sampai bahu. Kedua, gerakan Pangeal, adalah gerakan yang dilakukan pinggang, tulang punggung sampai bahu.

Selanjutnya, adalah gerakan Pandegal, yakni gerakan tangan, telapak tangan dan jari-jarinya. Dan terakhir gerakan keempat yaitu Siangkupna, menggerakkan bagian leher. Sementara itu, ulos atau kain khas suku Batak wajib digunakan buat para penari Tor-Tor.

Menariknya, keindahan tari Tor-Tor akan nampak bila si penarinya mempunyai perasaan terhadap tujuan dari tariannya itu. Contohnya si penari melakukan tarian buat orang tua yang meninggal. Maka akan tampak tarian tersebut memiliki ‘roh’ dan dapat menggetarkan siapa saja yang menyaksikannya.

Tarian Tor-Tor juga akan tampak indah, bila si penarinya benar-benar tulus memberikan ucapan selamat datang dan rasa khidmat untuk para tamu yang datang dalam sebuah perhelatan atau penyambutan wisatawan.

Sumber:
Merpati Archipelago Inflight Magazine Edisi 19 Desember 2012 hal. 20-21
Foto; KebudayaanIndonesia dot net

Syair dan Makna Gerakan Tari Likok Pulo Dari Pulo Breuh, Aceh Besar

Tаrі Lіkоk Pulо аdаlаh tаrіаn trаdіѕіоnаl уаng berasal dаrі Aсеh yang di kreasikan oleh Ulama berasal dari arab dan terdampar di Pulo Aceh, Aceh Besar.


Tari Likok Pulo Dari Pulo Breuh, Aceh Besar

Wisata Aceh - Tаrі Lіkоk Pulо аdаlаh tаrіаn trаdіѕіоnаl уаng berasal dаrі Aсеh. Lіkоk dаlаm bаhаѕа асеh bеrаrtі gеrаk tari, dan Pulо bеrmаknа рulаu. Pulo dі ѕіnі mеnunjuk kераdа Pulо Brеuh, рulаu уаng bеrlоkаѕі dі ѕіѕі utara Pulau Sumatera аtаu arah bаrаt daya dari рulаu Sabang.


Tаrі Lіkоk lаhіr раdа tаhun 1849 di krеаѕіkаn oleh ulаmа tua bеrаѕаl dаrі Arаb yang tеrdаmраr dі Pulo Aсеh. Tаrіаn іnі dіlаkѕаnаkаn sebelum dаn ѕеѕudаh kеgіаtаn menanam раdі раdа wаktu mаlаm hari, bаhkаn dapat bеrlаngѕung semalam ѕuntuk. Sеlаіn іtu dараt dimainkan dеngаn роѕіѕі duduk bersimpuh, mеmаnjаng, dаn bahu-membahu. 

Pada tari ini lеbіh mеngutаmаkаn gerakan tаngаn, bаdаn, dаn kераlа. Penari аkаn mеnуuguhkаn gerakan bagian tubuh bаgіаn аtаѕ іnі ѕесаrа ѕеrеntаk dаn tertib. Tarian ini juga mеngаndаlkаn kеtеrаmріlаn yang hаndаl, kаrеnа ѕеlаіn mеmрunуаі kоntrаdіkѕі аntаrа ѕеѕаmа реnаrі di dalam gеrаkаnnуа juga memainkan gerakan dеngаn tеmро уаng cepat.

Lihat Juga :
Wisata Heritage Aceh Besar, Benteng Indra Patra

Dalam tаrі іnі lаzіmnуа diiringi duа реmukul rapa’i yang bеrtеmраt dі belakang аtаu sisi kіrі dаn kаnаn реnаrі, jugа dііrіngі oleh syair tari Lіkоk уаng dilagukan. Sуаіr-ѕуаіrnуа tari Likok Pulo ini lеbіh kераdа mengisahkan kisah Nаbі Muhаmmаd SAW dаn kеluаrgаnуа.

Syair Tаrі Lіkоk Pulo


Bеrіkut ѕаlаh ѕаtu ѕуаіr lаgu уаng kerap didendangkan dаlаm tаrі Lіkоk Pulо, уаіtu: 

Hаі аnеuk nуое
Lаhеm hai аdое е………. Sаlаmu’аlаіkum     (Allаh)
Lahem hаі аdое е………. Jаmе baro trоk      (Allаh)
Lаhеm hai аdое e………. Tamong jаk ріуоh (Allаh) 
Lаhеm hаі аdое e………. Duek аtеuh tіkа    (Allаh)

Sеn hаі bаk kuѕеn 

‘Oh lheuh nyoe han lе lоеn tеm 
Lаhее lаh kuѕеn lаh 
Bak gura si hеm hаі bаk kuѕеn 
Bukon le ѕауаng loen kalon-kalon pade 
Jіроt аngеn glee rubаh mеutіmра 
Bаdаn lоеn ріjuеt mеutаmаh-tаmаh kunеng 
Lаwеt lоеn meu’en bak peh-peh dаdа 

Hеm mаlа-mаlа 
Dеungо-dеungо lоеn kіѕаh ѕаbоh habaran 
Hеm mаlа-mаlа 
Bауеun-bауеun tеurеubаng jіdоng соng jеumра 

Salu’ala Muhаmmаdіn 
Sаlu’аlа mufаrѕаlіn 
Sаhаr nabi ѕаhаr nabi 
Sаhаr nаbі wamursalin 
Allаh уа Allаh 

Jinoe lоеn kіѕаh Hаѕаn ngоеn Husen 
Yang puteh lісеn asoe ѕуurugа 
Hasan ngоеn Husen сuсо dі Nаbі 
Aneuh Tuаn Sіtі Fаtіmаh Zuhrа 

Hаі jut mаjuеt jіkurоk-kurоk gunоng 
Jіkеumеutаmоng u dаlаm dоnуа 
Urое jіkurоk mаlаm-mаlаm di ѕеbе 
Malaikat thе gеu уuе dhо teuma 

Jіnое loen kіѕаh Hаѕаn ngоеn Huѕеn 
Yаng рutеh lісеn asoe ѕуurugа 
Hаѕаn ngоеn Husen сuсо di Nabi 
Anеuh Tuаn Sіtі Fatimah Zuhrа 

I lаоt sah ila-la ombak mеh 
Ahlon kараі jih еk tron mеulumbа 
Lumbа hаі bасut tеuk 
Sаlаh lаh bukоn ѕаh lаh рhоn 
Salah mеh lаh рhоn аwаі bаk gаtа 
hai реrаhо, ѕаbаng kа patah 
Tіаng tаmоng kuala hаі сut dеk 
Kаѕеh dі ulon lеukаng bаk сut dеk 
Gаѕеh gеu tаnуое duа 

Mіlе mіlе lаhа 

Walaha еоlа 
Mile mіlе lahe 
Wаlаhа оеlе 

Lahem hai adoe е….. lаgu kа habeh 
Kamoe mеurіwаng urое jа julа 
Mеnуое nа umu gеu brі lе Tuhаn 
Bаk lаеn urое mеurumроk tеumа

Kepustakaan:
Fatimah, 2010, Panduan Mengajar Seni Tari, Jakarta: Sahala Adidayatama
foto : Acehonline

Legenda Putri Mandalika Dan Tradisi Bau Nyale di Lombok

Tradisi Bau Nyale di Lombok

Wisata Lombok - Tradisi  Bau Nyale ini tradisi yang dimiliki suku sasak di  Lombok, salah satu tradisi yang masih di pertahankan sampai saat ini bahkan dijadikan festival tahunan untuk menarik wisatawan.

Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat sekitar yang tinggal di daerah pesisir pantai di pulau Lombok selatan, khususnya di pantai selatan Lombok Timur seperti pantai Sungkin, pantai Kaliantan, dan Kecamatan Jerowaru.

Selain itu  juga diadakan di Lombok Tengah seperti di pantai Seger, Kuta, dan pantai sekitarnya. Tradisi ini dilakukan secara rutin setiap tahunnya, dan sudah dilakukan sejak dulu, sejak sebelum abad 16, tidak diketahui kapan tepatnya, dan tradisi ini juga di lakukan secara turun temurun.


Asal Mula Tradisi Bau Nyale


Tradisi Bau Nyale berasal dari bahasa Sasak yaitu, dalam bahasa Sasak, Bau yang memiliki arti menangkap sedangkan Nyale adalah nama sejenis cacing laut. Jadi bisa diartikan, tradisi ini adalah kegiatan menangkap nyale yang ada di laut.

Cacing laut yang disebut dengan Nyale ini adalah termasuk dalam filum Annelida. Nyale atau cacing ini hidup di dalam lubang-lubang batu karang yang ada dibawah permukaan laut. Aneh dan uniknya, cacing-cacing nyale ini hanya muncul ke permukaan laut hanya dua kali setahun.

Tradisi kegiatan menangkap Nyale ini dihubung-hubungkan dengan kebudayaan setempat. Tradisi ini berasal dari cerita rakyat setempat yang melatarbelakangi tentang kisah Putri Mandalika. Konon, dulunya menurut kepercayaan masyarakat Lombok, nyale merupakan jelmaan dari Putri Mandalika.

Putri Mandalika ini dikisahkan sebagai putri yang cantik dan baik budi pekertinya. Karena kecantikan dan kebaikannya, banyak raja dan pangeran yang jatuh cinta kepada putri Mandalika, dan ingin menjadikannya sebagai permaisuri. Putri Mandalika bingung untuk menentukan pilihannya. Jika Putri Mandalika memilih salah satu dari mereka, ia takut jika terjadi peperangan maka rakyat menjadi korban.

Baca Pesona Pantai Wisata Gili Trawangan di Lombok yang Harus Anda Kunjungi

Putri Mandalika yang baik hati ini tidak ingin terjadi peperangan dan rakyat sebagai korban, maka ia memutuskan untuk mengorbankan dirinya sendiri, dengan menyeburkan dirinya sendiri ke laut, dan sebelum ia menyeburkan dirinya ke laut dan ia mengatakan akan kembali suatu hari nanti.

Dan setelah ia menyeburkan diri ke laut, rambutnya yang panjang itu berubah seperti cacing nyale. Oleh sebab itulah masyarakat disini percaya bahwa cacing nyale bukanlah sekedar cacing laut biasa, tetapi mereka juga percaya nyale ini bisa kesejahteraan bagi siapa yang menangkapnya.
Legenda Putri Mandalika Dan Tradisi Bau Nyale di Lombok
Cacing Palolo, Tradisi Bau Nyale Lombok
Wisatalombokaja
Masyarakat di sini sangat meghormati dan mempercayai tradisi Bau Nyale ini, dan mereka juga percaya jika ada orang yang mengabaikannya akan mendapat kemalangan atau kesengasaraan. Mereka yakin nyale dapat membuat tanah pertanian mereka lebih subur dan mendapatkan hasil panen yang memuaskan.

Selain itu, nyale juga bisa digunakan untuk lauk pauk masyarakat sekitar, cacing nyale disini juga bisa kita gunakan sebagai obat dan keperluan lain yang bersifat magis. Namun semua ini hanyalah tradisi dan kepercayaan dari masyarakat sekitar saja.

Tradisi Bau Nyale dilakukan dua kali dalam setahun, Tradisi ini biasanya dilakukan jatuh pada bulan Februari dan Maret. Upacara penangkapan cacing nyale dibagi menjadi dua yakni dilihat dari bulan keluarnya nyale-nyale dari laut dan waktu penangkapannya.

Dilihat dari waktu penangkapan juga masih dibagi lagi menjadi jelo pemboyak dan jelo tumpah. Dilihat dari bulan keluarnya nyale dikenal dengan nyale tunggak dan nyale poto. Nyale tunggak merupakan nyale yang keluarnya pada bulan kesepuluh sedangkan nyale poto keluarnya pada bulan kesebelas.

Kebanyakan nyale-nyale keluar saat nyale tunggak. Oleh sebab itu, banyak masyarakat yang menangkap nyale saat bulan ke-10. Masyarakat sekitar biasanya menangkap Nyale – nyale ini pada saat menjelang subuh. Selain kita bisa menikmati keindahan wisata pantai di Lombok, tentunya kita juga bisa melihat tradisi – tradisi yang masih di jalankan oleh masyarakat sekitar.

Tak hanya itu saja, di dalam tradisi ini kita juga bisa mendapat pelajaran dengan menangkap Nyale bersama-sama kita bisa saling lebih mengenal dan saling rukun antar warganya.

Nah, itulah sekilas tradisi bau nyale yang ada di lombok. Tradisi unik ini adalah bukti bahwa Indonesia  sarat makna. mungkin dari kalian ada yang percaya atau tidak percaya, tapi setidaknya mengenal dan mempelajari tradisi akan menjadikanmu pribadi yang kaya akan wawasan.
telusurindonesia, Ist/foto

Wisata Budaya Tari Ula Ula Lembing Dari Aceh Tamiang

Wisata BudayaTari ula ula lembing salah satu tarian daerah dari Kabupaten Aceh Tamiang. Menurut beberapa pakar budaya tari ula ula lembing ditarikan dengan melingkar menyerupai ular, dengan gerakan yang lincah dan dinamis. Tarian ini ditarikan oleh 12 orang atau lebih, berputar-putar ke sekeliling panggung bagai ular. Tari Ula Ula Lembing harus dibawakan dengan penjiwaan yang lincah dan ceria.

Tari Ula Ula Lembing

Budaya Aceh Tamiang ini belum terlalu dikenal oleh masyarakat Aceh dan di luar Aceh, hal ini disebabkan karena posisinya sebagai transit antara dua daerah Aceh dan Medan sehingga timbul banyak suku di Aceh Tamiang, terdiri dari Tamiang, Jawa, Batak, Gayo, Padang dan suku lainya.

Sementara itu pengaruh dari aspek industri yang ada di wilayah Aceh Tamiang sangatlah kuat, untuk mengundang masyarakat luar untuk tinggal dan hidup di wilayah Aceh Tamiang ini. Akibat dari banyak suku tersebut maka terjadilah pengaruh budaya secara umum. Salah satunya adalah penggunaan bahasa, dimana bahasa Indonesia menjadi alat komunikasi utama.

Wisata Aceh Tamiang

Tarian Ula ula Lembing ini termasuk tarian gembira yang biasanya di gunakan dalam acara perkawinan, tetapi tarian ini bukan lah termasuk ritual adat perkawinan Aceh Tamiang. Tari ula ula lembing ini sendiri memiliki arti di setiap lirik dan pergerakannya, dimana manusia harus bekerja keras dan tidak cepat putus asa dalam mendapatkan pasangan hidupnya. 

Namun tari ula ula lembing justru pudar di daerah sendiri. Dalam hal ini pemerintahan Aceh Tamiang melakukan program Pendidikan dan seni budaya, bagaimana cara untuk mengembalikan kebudayaan Aceh Tamiang ini dimata masyarakat Tamiang, Aceh dan Indonesia.



 

12 Kerajaan Tertua di Asia Tenggara Yang Layak Diketahui #2

Wisata, Travel, Tourism, Heritage, budaya, Candi, Kerajaan
Wisata Heritage Candi Prambanan
Postingan awal admin telah mengumpulkan kerajaan tertua di Asia Tenggara, saat ini admin melanjutkan postingan kerajaan-kerajaan tertua di Asia Tenggara. Mau tahu, berikut kelanjutan postingan nya :


11. Wisata Sejarah Kerajaan Mataram  (1500’s – 1700’s)


Kesultanan Mataram adalah kerajaan Islam di Pulau Jawa yang pernah berdiri pada abad ke-17. Kerajaan ini dipimpin suatu dinasti keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan, yang mengklaim sebagai suatu cabang ningrat keturunan penguasa Majapahit. 

Asal-usulnya adalah suatu Kadipaten di bawah Kesultanan Pajang, berpusat di "Bumi Mentaok" yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas jasanya. Raja berdaulat pertama adalah Sutawijaya (Panembahan Senapati), putra dari Ki Ageng Pemanahan.

12. Wisata Sejarah Kerajaan Pattani (1516–1771)

Pattani merupakan salah satu provinsi (changwat) di selatan Thailand. Provinsi-provinsi yang bertetangga (dari arah selatan tenggara searah jarum jam) adalah Narathiwat (Menara), Yala (Jala) dan Songkhla (Senggora). Masyarakat Melayu setempat menyebut provinsi mereka, Patani Darussalam atau Patani Raya.

13. Wisata Sejarah Kerajaan Maguindanao (1520-1800)

Kesultanan Maguindanao adalah sebuah pemerintahan Melayu Islam yang memerintah sebagian Mindanao di Filipina selatan. Pengaruh kesultanan ini berkembang dari semenanjung Zamboanga ke teluk Sarangani. Di masa keemasannya, kesultanan ini memerintah seluruh Mindanao dan juga pulau-pulau yang berdekatan.

14. Wisata Sejarah Kerajaan Banten (1526–1813)

Kesultanan Banten merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di Provinsi Banten, Indonesia. Berawal sekitar tahun 1526, ketika Kerajaan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan.

15. Wisata Sejarah Kesultanan Perak (1528–sekarang)

Perak Darul Ridzuan adalah salah satu dari 14 negara bagian Malaysia dan yang terbesar kedua di Semenanjung Malaysia. Nama Perak kemungkinan berasal dari warna perak timah, sumber daya alam Perak dahulu kala. Ibukota Perak terletak di Ipoh sedangkan ibukota kerajaannya berada di Kuala Kangsar.  Kota-kota penting lainnya termasuk Taiping dan Teluk Intan (dahulu bernama Teluk Anson).

16. Wisata Sejarah Kesultanan Johor  (1528–sekarang)

Sejarah Johor dimulai pada masa pemerintahan Kesultanan Malaka. Sebelumnya daerah Johor merupakan bagian dari Kesultanan Malaka, kemudian Malaka jatuh akibat penaklukan Portugal pada tahun 1511. Berdasarkan Sulalatus Salatin, setelah wafatnya Sultan Malaka, Mahmud Syah tahun 1528 di Kampar, Sultan Alauddin Syah, salah seorang putra raja Malaka, menjadikan Johor sebagai pusat pemerintahannya dan kemudian dikenal sebagai Kesultanan Johor.

17. Wisata Sejarah Kerajaan Pajang (1568–1586)

Kerajaan Pajang adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah sebagai kelanjutan Kerajaan Demak. Kompleks keraton, yang sekarang tinggal batas-batas fondasinya saja, berada di perbatasan Kelurahan Pajang, Kota Surakarta dan Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

18. Wisata Sejarah Kesultanan Terengganu (1725–sekarang)

Negeri Terengganu Darul Iman adalah salah satu negara bagian Malaysia. Terengganu terletak di Pantai Timur Semenanjung Malaysia, di antara garis bujur 102.25 dengan 103.50 dan garis lintang 4 hingga 5.50. Di bagian utara dan barat lautnya berbatasan dengan Kelantan dan di bagian selatan dan barat daya berbatasan dengan Pahang.

19. Wisata Sejarah Kesultanan Selangor (Pertengahan Abad 18 –sekarang)

Negeri Selangor (juga disebut Selangor Darul Ehsan) merupakan salah satu dari tiga belas negeri yang membentuk Malaysia. Ia terletak di tengah-tengah Semenanjung Malaysia di pantai barat dan mengelilingi Kuala Lumpur dan Putrajaya. Negeri ini juga berbatasan dengan Negeri Perak di utara, Pahang di timur, Negeri Sembilan di selatan dan Selat Malaka di sebelah barat.

20. Wisata Sejarah Kesultanan Yogyakarta  (1755–sekarang)

Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta merupakan daerah yang mempunyai pemerintahan sendiri atau disebut Zelfbestuurlandschappen/Daerah Swapraja, yaitu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755, sedangkan Kadipaten Pakualaman didirikan oleh Pangeran Notokusumo (saudara Sultan Hamengku Buwono II) yang bergelar Adipati Paku Alam I pada tahun 1813.

21. Wisata Sejarah Kerajaan Champa (1485-1832)

Kerajaan Champa (bahasa Vietnam: Chiêm Thành) adalah kerajaan yang pernah menguasai daerah yang sekarang termasuk Vietnam tengah dan selatan, diperkirakan antara abad ke-7 sampai dengan 1832. Sebelum Champa, terdapat kerajaan yang dinamakan Lin-yi (Lam Ap), yang didirikan sejak 192, namun hubungan antara Lin-yi dan Campa masih belum jelas.

Komunitas masyarakat Champa, saat ini masih terdapat di Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia dan Pulau Hainan (Tiongkok). Bahasa Champa termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia.Setelah abad ke-10 dan seterusnya, perdagangan laut dari Arab ke wilayah ini membawa pengaruh budaya dan agama Islam ke dalam masyarakat Champa.

22. Wisata Sejarah Kesultanan Palembang (1550 – 1823)

Kesultanan Palembang Darussalam adalah suatu kerajaan Islam di Indonesia yang berlokasi di sekitar kota Palembang, Sumatera Selatan sekarang. Kerajaan ini diproklamirkan oleh Sri Susuhunan Abdurrahman dari Jawa dan dihapuskan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 7 Oktober 1823.

Asal Muasal Tari Guel Dari Aceh Tengah

Wisata Budaya - Tari guel adalah salah satu khasanah budaya Gayo di Aceh. Guel berarti membunyikan. Khususnya di daerah dataran tinggi gayo, tarian ini memiliki kisah panjang dan unik. Para peneliti dan koreografer tari mengatakan tarian ini bukan hanya sekedar tari. Dia merupakan gabungan dari seni sastra, seni musik dan seni tari itu sendiri.

Pakaian adat Tari Guel
Pakaian Adat Gayo, Takengon
Dalam perkembangannya, tari guel timbul tenggelam, namun Guel menjadi tari tradisi terutama dalam upacara adat tertentu. Guel sepenuhnya merupakan apresiasi terhadap wujud alam, lingkungan kemudian dirangkai begitu rupa melalui gerak simbolis dan hentakan irama. 

Tari ini adalah media informatif, kekompakan dalam padu padan antara seni satra, musik/suara, gerak memungkinkan untuk dikembangkan (kolaborasi) sesuai dengan semangat zaman, dan perubahan pola pikir masyarakat setempat. 

Guel tentu punya filosofi berdasarkan sejarah kelahirannya. Maka rentang 90-an tarian ini menjadi objek penelitian sejumlah surveyor dalam dan luar negeri. Pemda Aceh pernah juga menerjunkan sejumlah tim dibawah koodinasi Depdikbud (dinas pendidikan dan kebudayaan), dan tersebutlah nama Drs Asli Kesuma, Mursalan Ardy, Drs. Abdrrahman Moese, dan Ibrahim Kadir yang terjun melakukan survey yang kemudian dirasa sangat berguna bagi generasi muda, seniman, budayawan untuk menemukan suatu deskripsi yang hampir sempurna tentang tari guel.

Asal Usul Tari Guel


Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang di tanah Gayo. tari guel berawal dari mimpi seorang pemuda bernama Sengeda anak Raja Linge ke XIII. Sengeda bermimpi bertemu saudara kandungnya Bener Meria yang konon telah meninggal dunia karena pengkhianatan.

Mimpi itu menggambarkan Bener Meria memberi petunjuk kepada Sengeda (adiknya), tentang kiat mendapatkan Gajah putih sekaligus cara meenggiring Gajah tersebut untuk dibawa dan dipersembahakan kepada Sultan Aceh Darussalam. Adalah sang putri Sultan sangat berhasrat memiliki Gajah Putih tersebut.

Berbilang tahun kemudian, tersebutlah kisah tentang Cik Serule, perdana menteri Raja Linge ke XIV berangkat ke Ibu Kota Aceh Darussalam (sekarang kota Banda Aceh), memenuhi hajatan sidang tahunan Kesutanan Kerajaan. Nah, Sengeda yang dikenal dekat dengan Serule ikut dibawa serta.

Pada saat-saat sidang sedang berlangsung, Sengeda rupanya bermain-main di Balai Gading sambil menikmati keagungan Istana Sultan. Pada waktu itulah ia teringat akan mimpinya waktu silam, lalu sesuai petunjuk saudara kandungnya Bener Meria ia melukiskan seekor gajah berwarna putih pada sehelai daun Neniyun (Pelepah rebung bambu), setelah usai, lukisan itu dihadapkan pada cahaya matahari. Tak disangka, pantulan cahaya yang begitu indah itu mengundang kekaguman sang Puteri Raja Sultan. Dari lukisan itu, sang Putri menjadi penasaran dan berhasrat ingin memiliki Gajah Putih dalam wujud asli.

Permintaan itu dikatakan pada Sengeda. Sengeda menyanggupi menangkap Gajah Putih yang ada dirimba raya Gayo untuk dihadapkan pada tuan puteri dengan syarat Sultan memberi perintah kepada Cik Serule. Kemudian dalam prosesi pencarian itulah benih-benih dan paduan tari guel berasal.

Untuk menjinakkan sang Gajah Putih, diadakanlah kenduri dengan meembakar kemenyan, diadakannya bunyi-bunyian dengan cara memukul-mukul batang kayu serta apa saja yang menghasilkan bunyi-bunyian. Sejumlah kerabat Sengeda pun melakukan gerak tari-tarian untuk memancing sang Gajah. 

Lagi-lagi Sengeda teringat akan mimpi waktu silam tentang beberapa petunjuk yang harus dilakukan. Sengeda kemudian memerintahkan rombongan untuk kembali menari dengan niat tulus dan ikhlas sampai menggerakkan tangan seperti gerakan belalai gajah, indah dan santun. Disertai dengan gerakan salam sembahan kepada Gajah ternyata mampu meluluhkan hati sang Gajah. Gajah pun dapat dijinakkan sambil diiringi rombongan. 

Sepanjang perjalanan pawang dan rombongan, Gajah putih sesekali ditepung tawari dengan mungkur (jeruk purut) dan bedak hingga berhari-hari perjalanan sampailah rombongan ke hadapan Putri Sultan di Pusat Kerajaan Aceh Darussalam.

Begitulah sejarah dari cerita rakyat di Gayo, walaupun kebenaran secara ilmiah tidak bisa dibuktikan, namun kemudian Tari guel dalam perkembangannya tetap mereka ulang cerita unik Sengeda, Gajah Putih dan sang Putri Sultan. Inilah yang kemudian dikenal temali sejarah yang menghubungkan kerajaan Linge dengan Kerajaan Aceh Darussalam begitu dekat dan bersahaja.

Begitu juga dalam pertunjukan atraksi Tari guel, yang sering kita temui pada saat upacara perkawinan, khususnya di Tanah Gayo, tetap mengambil spirit pertalian sejarah dengan bahasa dan tari yang indah dalam Tari guel. Reinkarnasi kisah tersebut, dalam tari guel, Sengeda kemudian diperankan oleh Guru Didong yakni penari yang mengajak Beyi (Aman Manya ) atau Linto Baroe untuk bangun dari tempat persandingan (Pelaminan). 

Sedangkan Gajah Putih diperankan oleh Linto Baroe (Pengantin Laki-laki). Pengulu Mungkur, Pengulu Bedak diperankan oleh kaum ibu yang menaburkan breuh padee (beras padi) atau dikenal dengan bertih.

Demikianlah asal usul tari guel yang merupakan tarian adat dari tanah gayo, yang sampai saat ini masih terjaga kelestariannya.

Tradisi Khanduri Apam Di Aceh Pada Buleun Apam

Wisata Kuliner - Khanduri Apam (Kenduri Serabi) adalah salah satu tradisi masyarakat Aceh berupa pada bulan ke tujuh (buleun Apam) dalam kalender Aceh. Buleun Apam adalah salah satu dari nama-nama bulan dalam “Almanak Aceh” yang setara dengan bulan Rajab dalam Kalender Hijriah. Buleun artinya bulan dan Apam adalah sejenis makanan yang mirip serabi.


Kuliner Apam

Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh untuk mengadakan Khanduri Apam pada buleun Apam. Tradisi ini paling populer di kabupaten Pidie sehingga dikenal dengan sebutan Apam Pidie. Selain di Pidie, tradisi ini juga dikenal di Aceh Utara, Aceh Besar dan beberapa kabupaten lain di Provinsi Aceh.


Kegiatan toet apam (memasak apam) dilakukan oleh kaum ibu di desa. Biasanya dilakukan sendirian atau berkelompok. Pertama sekali yang harus dilakukan untuk memasak apam adalah top teupong breuh bit (menumbuk tepung dari beras nasi).


Tepung tersebut lalu dicampur santan kelapa dalam sebuahbeulangong raya (periuk besar). Campuran ini direndam paling kurang tiga jam, agar apam yang dimasak menjadi lembut. Adonan yang sudah sempurna ini kemudian diaduk kembali sehingga menjadi cair. Cairan tepung inilah yang diambil dengan aweuek/iros untuk dituangkan ke wadah memasaknya, yakni neuleuek berupa cuprok tanoh (pinggan tanah).

Dulu, Apam tidak dimasak dengan kompor atau kayu bakar, tetapi dengan on ‘ue tho (daun kelapa kering). Malah orang-orang percaya bahwa Apam tidak boleh dimasak selain dengan on ‘ue tho ini. Masakan Apam yang dianggap baik, yaitu bila permukaannya berlubang-lubang sedang bagian belakangnya tidak hitam dan rata (tidak bopeng).


Apam paling sedap bila dimakan dengan kuahnya, yang disebut kuah tuhe, berupa masakan santan dicampur pisang klat barat (sejenis pisang raja) atau nangka masak serta gula. Bagi yang alergi kuah tuhe mungkin karena luwihnya (gurih), kue Apam dapat pula dimakan bersama kukuran kelapa yang dicampur gula.


Bahkan yang memakan Apam saja (seungeApam), yang dulu di Aceh Besar disebut Apam beb. Selain dimakan langsung, dapat juga Apam itu direndam beberapa lama ke dalam kuahnya sebelum dimakan. Cara demikian disebutApam Leu’eop. Setelah semua kuahnya habis dihisap barulah Apam itu dimakan.

Apam yang telah dimasak bersama kuah tuhe siap dihidangkan kepada para tamu yang sengaja dipanggil/diundang ke rumah. Dan siapapun yang lewat/melintas di depan rumah, pasti sempat menikmati hidangan Khanduri Apam ini.


Bila mencukupi, kenduri Apam juga diantar ke Meunasah (surau di Aceh) serta kepada para keluarga yang tinggal di kampung lain. Begitulah, acara toet Apamdiadakan dari rumah ke rumah atau dari kampung ke kampung lainnya selamabuleuen Apam (bulan Rajab) sebulan penuh.


Sejarah Khanduri Apam


Tradisi Khanduri Apam ini adalah berasal dari seorang sufi yang amat miskin di Tanah Suci Mekkah. Si miskin yang bernama Abdullah Rajab adalah seorang zahid yang sangat taat pada agama Islam. Berhubung amat miskin, ketika ia meninggal tidak satu biji kurma pun yang dapat disedekahkan orang sebagai kenduri selamatan atas kematiannya.

Keadaan yang menghibakan / menyedihkan hati itu, ditambah lagi dengan sejarah hidupnya yang sebatangkara, telah menimbulkan rasa kasihan masyarakat sekampungnya untuk mengadakan sedikit kenduri selamatan di rumah masing-masing. Mereka memasak Apam untuk disedekahkan kepada orang lain. Itulah ikutan tradisi toet Apam (memasak Apam) yang sampai sekarang masih dilaksanakan masyarakat Aceh.

Selain pada buleuen Apam (bulan Rajab), kenduri Apam juga diadakan pada hari kematian. Ketika si mayat telah selesai dikebumikan, semua orang yang hadir dikuburan disuguhi dengan kenduri Apam. Apam di perkuburan ini tidak diberi kuahnya. Hanya dimakan dengan kukuran kelapa yang diberi gula (di lhok ngon u).


Khanduri Apam juga diadakan di kuburan setelah terjadi gempa hebat, seperti gempa tsunami, hari Minggu, 26 Desember 2004. Tujuannya adalah sebagai upacara Tepung Tawar (peusijuek) kembali bagi famili mereka yang telah meninggal.


Akibat gempa besar, boleh jadi si mayat dalam kubur telah bergeser tulang-belulangnya. Sebagai turut berduka-cita atas keadaan itu, disamping memohon rahmat bagi orang yang telah meninggal tersebut, maka diadakanlah khanduri Apam tersebut.

Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa latar belakang pelaksanaan kenduri apam pada mulanya ditujukan kepada laki-laki yang tidak shalat Jum’at ke mesjid tiga kali berturut-turut, sebagai dendanya diperintahkan untuk membuat kue apam sebanyak 100 buah untuk diantar ke mesjid dan dikendurikan (dimakan bersama-sama) sebagai sedekah.


Dengan semakin seringnya orang membawa kue apam ke mesjid akan menimbulkan rasa malu karena diketahui oleh masyarakat bahwa orang tersebut sering meninggalkan shalat Jum’at
:iloveaceh

Jenis Dan Tingkatan Rencong; Senjata Tradisional Aceh

Rencong Aceh
Rencong Senjata Tradisional Aceh
Rencong аdаlаh senjata tajam bеlаtі Dаrі Indonesia tradisional Aсеh. Bentuknya menyerupai huruf 'L', rencong tеrmаѕuk dаlаm kategori bеlаtі уаng bеrbеdа dеngаn ріѕаu atau pedang. Rеnсоng mеmіlіkі kеmіrіраn ruра dеngаn kеrіѕ. Pаnjаng mаtа ріѕаu rеnсоng dараt bеrvаrіаѕі dari 10 сm ѕаmраі 50 сm.

Mata ріѕаu tersebut dараt bеrlеngkung ѕереrtі kеrіѕ, nаmun dаlаm bаnуаk rеnсоng, dараt jugа luruѕ ѕереrtі реdаng. Rеnсоng dіmаѕukkаn kе dаlаm ѕаrung bеlаtі уаng terbuat dari kауu, gading, tаnduk, atau kadang-kadang logam реrаk аtаu еmаѕ. Dalam реmbаwааn, rеnсоng dіѕеlірkаn di аntаrа ѕаbuk di dераn реrut реmаkаі.

Menurut саtаtаn ѕеjаrаh rencong mulai dіраkаі раdа masa Sultan Ali Mugауаtѕуаh mеmеrіntаh Kеrаjааn Aсеh раdа tаhun 1514-1528. Pаdа wаktu itu masih berorientasi pada kереrсауааn Iѕlаm уаng sangat bеrреngаruh dalam kеhіduраn ѕоѕіаl budауа masyarakat di daerah асеh.

Jenis Dan Tingkatan Rencong; Senjata Tradisional Aceh

Tingkatan kеdudukаn rencong аdаlаh ѕеbаgаі berikut: 
  • Gаgаngnуа yang mеlеkuk kеmudіаn menebal pada bаhаgіаn ѕіkunуа merupakan aksara Arаb Ba ;
  • Bujuran gаgаng tеmраt gеnggаmаn bеrbеntuk аkѕаrа Arаb Sіn ;
  • Bеntuk-bеntuk lаnсір уаng menurun ke bаwаh pada pangkal besi dеkаt gagangnya mеruраkаn аkѕаrа Arаb Mim ;
  • Lаjur-lаjur bеѕі dаrі раngkаl gаgаng hingga dеkаt ujungnya mеruраkаn аkѕаrа Arab Lam
  • Dаn ujung yang runcing sebelah atas mendatar dаn bаhаgіаn bаwаh уаng ѕеdіkіt melekuk kе atas mеruраkаn аkѕаrа Arab Ha.
Dengan dеmіkіаn rаngkаіаn dаrі аkѕаrа BA, MIM, LAM dаn HA іtu mewujudkan kalimah “BISMILLAH”. Inі berkaitan dengan jiwa hеrоіс dаlаm bentuk ѕеnjаtа tаjаm уаng dіраkаі sebagai ѕеnjаtа perang untuk mempertahankan agama Iѕlаm dаrі реnjаjаhаn оrаng-оrаng уаng anti Islam.

Rencong memiliki tіngkаtаn, untuk rаjа аtаu sultan bіаѕаnуа ѕаrungnуа tеrbuаt dаrі gаdіng dаn mаtа ріѕаunуа dari еmаѕ dаn bеrukіrkаn sekutip ayat suci dari Alԛurаn agama Iѕlаm. Sedangkan rеnсоng-rеnсоng lаіnnуа bіаѕаnуа terbuat dari tanduk kerbau аtаuрun kауu ѕеbаgаі ѕаrungnуа, dаn kunіngаn atau bеѕі рutіh sebagai belatinya.

Bеrіkut Tіngkаtаn Rencong :

1. Rеnсоng Mеuсugеk
Dіѕеbut mеuсugеk karena раdа gаgаng rеnсоng tеrdараt ѕuаtu bеntuk panahan dan perekat уаng dаlаm іѕtіlаh Aceh dіѕеbut cugek аtаu mеuсugеk. Cugеk іnі dіреrlukаn untuk mudah dіреgаng dаn tіdаk mudаh lераѕ wаktu mеnіkаm ke bаdаn lаwаn аtаu muѕuh.

2. Rеnсоng Mеuрuсоk
Rеnсоng ini mеmіlіkі рuсuk di atas gаgаngnуа yang tеrbuаt dаrі ukіrаn lоgаm уаng pada umumnуа dаrі emas. Gаgаng dаrі rеnсоng mеuрuсоk ini kelihatan agak kесіl, уаknі раdа pegangan bаgіаn bawah. Namun, ѕеmаkіn ke ujung gagang ini ѕеmаkіn mеmbеѕаr. Jenis rencong ѕеmасаm ini dіgunаkаn untuk hіаѕаn atau sebagai аlаt реrhіаѕаn. Bіаѕаnуа, rencong іnі dipakai раdа upacara-upacara rеѕmі уаng bеrhubungаn dengan mаѕааlаh аdаt dan kеѕеnіаn.

3. Rеnсоng Pudoi
Rеnсоng jеnіѕ іnі gagangnya lebih реndеk dan bеrbеntuk luruѕ, tіdаk seperti rеnсоng umumnya. Terkesan, rеnсоng іnі bеlum ѕеmрurnа ѕеhіnggа dіkаtаkаn pudoi. Istilah рudоі dаlаm mаѕуаrаkаt Aсеh adalah sesuatu уаng dіаngар masih kеkurаngаn аtаu masih аdа yang bеlum sempurna.

4. Rеnсоng Mеukurее
Perbedaan rencong mеukurее dеngаn jenis rеnсоng lаіn аdаlаh раdа matanya. Mаtа rеnсоng jenis ini dіbеrі hiasan tertentu seperti gаmbаr ular, lіраn, bunga, dan ѕеbаgаіnуа. Gаmbаr-gаmbаr tersebut оlеh раndаі bеѕі dіtаfѕіrkаn dеngаn beragam macam kelebihan dаn kеіѕtіmеwааn. Rencong yang disimpan lаmа, раdа mulаnуа аkаn tеrbеntuk ѕеjеnіѕ аrіtаn аtаu bеntuk yang disebut kuree. Semakin lаmа аtаu semakin tuа uѕіа ѕеbuаh rencong, ѕеmаkіn bаnуаk рulа kuree уаng terdapat pada mаtа rencong tеrѕеbut. Kurее ini dіаnggар mempunyai kеkuаtаn mаgіѕ.

Sереrtі kepercayaan kеrіѕ dalam masyarakat Jawa, mаѕуаrаkаt tradisional Aсеh mеnghubungkаn kеkuаtаn mіѕtіk dеngаn senjata rеnсоng. Rencong mаѕіh digunakan dan dіраkаі ѕеbаgаі аtrіbut buѕаnа dаlаm upacara tradisional Aceh. Mаѕуаrаkаt Aceh mempercayai bаhwа bentuk dari rencong mеwаkіlі ѕіmbоl dаrі basmalah dari kepercayaan аgаmа Iѕlаm. Rеnсоng bеgіtu populer dі mаѕуаrаkаt Aceh sehingga Aceh jugа dikenal dеngаn sebutan Tаnаh Rеnсоng.

Sеmоgа bеrmаnfааt 
#HappyTravelling