Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan

Budaya Teumuntuk, Adat Kebiasaan Bagi Pengantin Baru Saat Lebaran Tiba di Aceh


Teumuntuk adalah sebuah tradisi di Acehyang dilakukan oleh pengantin baru, baik dari pengantin perempuan (bahasa Jamee disebut binie, bahasa Aceh disebut inong) dan pengantin laki-laki (bahasa Jamee disebut laki, bahasa Aceh disebut lakoe) untuk menghormati orang tua mereka, tetua desa, tetangga, handai taulan serta karib kerabat dengan saling menjabat tangan yang dilakukan saat Hari Raya Idul Fitri tiba.


Setiap orang akan menjabat tangan pasangan baru sambil memberikan mereka uang (Jamee agih kepieng; Aceh jok peng) dengan memasukkan ke dalam tangan (genggaman istri atau suami).

Dalam bahasa Jamee istilah Teumuntuk dikenal dengan nama Teumuntuak, dan beberapa wilayah Aceh lainnya menyebutnya sebagai Seuneumah. Dilihat dari segi pembentukan kata, Teumentuk merupakan kata dasar dalam bahasa Aceh dan bukan kata berimbuhan. Ini dikarenakan tidak ada kata dasar ‘muntuk’ dalam pertuturan jika kata ‘teu‘ dipisahkan.

Saat ini, tradisi Teumuntuk tetap dijalankan di beberapa wilayah di Aceh seperti, Aceh Selatan, Aceh Utara, Aceh Barat Daya dan Aceh Besar. Namun, ada juga beberapa wilayah di Aceh yang tidak melaksanakan tradisi ini.

Tradisi Teumentuk saat berlebaran sebenarnya merupakan lanjutan prosesi Teumentuk yang telah dilakukan saat prosesi peusijuk (tepung tawari) pada adat perkawinan sebelumnya, baik dari acara di pihak laki-laki yaitu Preh Dara Baro (menunggu pengantin perempuan) atau acara perkawinan dari pihak perempuan yaitu Intat Linto (menjemput sang pengantin laki-laki). Pada Teumuntuk saat acara perkawinan, salam tempel diberikan kepada pengantin baru juga oleh keluarga pihak laki-laki maupun perempuan, kerabat dan para tetangga.

Menurut Abdul Manan dalam buku Ritual Kalender Aneuk Jamee di Aceh Selatan (Studi Etnorgafi di Kecamatan Labuhan Haji Barat), beliau menyebutkan bahwa sebelum tradisi Teumuntuk diakukan, biasanya dari pihak suami akan menginformasikan kepada keluarganya, tetangga dan sahabat, bahwa pasangan keluarga baru akan melakukan tradisi Teumuntuk.

Di zaman dahulu, selama dua minggu hari raya puasa, pihak suami mengirim bahan-bahan untuk membuat kue tradisional seperti tepung ketan (Jamee tapuang sipluik; Aceh teupong leukat), gula (Jamee gulo; Aceh saka), telur (Jamee talue; Aceh boh manok), minyak kelapa (Jamee minyak karambi; Aceh minyeuk u), kelapa (Jamee karambi: Aceh boh u) dan lain-lain. Sementara itu pihak istri menyiapkan uang kertas untuk teumuntuk kepada suami, juga menyiapkan kue-kue tradisional Aceh seperti juadah, wajeb, keukarah, dodoi, meuseukat, leumang dan lain-lain.

Pada hari raya puasa, kue-kue tradisional tersebut ditempatkan dalam sebuah panci khusus yang disebut jambalomang (bungkusan yang berisi kue-kue tradisional). Semua itu kemudian dibawa ke rumah mertua istri oleh seorang dari pihak istri. Tradisi uroe raya (hari raya) seperti ini disebut meulang jajak.

Ketika rombongan keluarga istri sampai ke rumah suaminya, mereka dihidangkan dengan makanan yang telah dimasak dan ritual pengembalian jambalomang dilakukan oleh seorang wanita tua atas nama pihak saudara istri dengan pihak suami.

Pihak suami kemudian mengambil seluruh isi dari jambalomang dan menaruh uang dan pakaian di dalamnya sebagai hadiah balasan. Istri melakukan sembah dengan bersalaman dengan orang tua suami diikuti oleh anggota keluarga istri satu persatu sambil meminta izin untuk meninggalkan rumah. Setelah bersalaman, rombongan istri meninggalkan rumah suaminya dengan mengambil kembali jambalomang yang telah diisi dengan pemberian dari pihak suami.

Namun saat ini, tradisi Teumuntuk dilakukan tanpa harus membawa jambolamang. Pasangan pengantin baru cukup bersilaturrahmi ke tempat pihak keluarga suami atau sebaliknya tanpa harus disertai oleh rombongan keluarga yang lain.

Setelah kembali dari rumah suami, suami-istri mengunjungi tetangga, petua adat dan sahabat dekat mereka. Dengan kunjungan ini, mereka juga membawa kue tradisonal yang ditempatkan di dalam talam. Ketika mereka tiba, sang istri memberikan talam tersebut bagi rumah yang dikunjungi sambil bersalaman.

Ketika mereka meninggalkan rumah, tuan rumah menyalami pasangan baru dengan uang kertas. Saat mereka kembali, talam yang berisi kue-kue tradisional tadi kemudian diisi pakaian sebagai pemberian balasan untuk rumah yang dikunjungi.

Jika pasangan baru tersebut mengunjungi orang-orang yang dekat dengan mereka, mereka biasanya memberikan (kue tradisional) yang biasa mereka dan menerima kembali lebih dari apa yang mereka berikan. Namun saat ini, pemberian balasan ini sudah jarang dilakukan dengan balasan kue tradisional lagi, dan hanya cukup dengan pemberian balasan berupa uang saja.

Kebiasaan Teumuntuk merupakan sebuah adat yang memiliki pengaruh yang sangat dalam bagi masyarakat. Jika pasangan yang baru menikah tidak melaksanakan ritual ini, mereka akan merasakan pernikahan tidak lengkap dan tidak punya adat/budaya. Akan terdengar ucapan dari keluarga, tetangga dan sahabat mereka yang bertanya “mengapa kamu tidak datang ke rumah saya dan mengenalkan istri kamu kepada kami” (Aceh; Ek hana ijak dan peuturi inong jih u rumoh loen).

Hal ini sangat memalukan dan akan berakibat berita yang buruk terhadap pasangan baru dalam bermasyarakat, karena mereka tidak menjalankan tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun.
Sumber : Manan A. 2013. Ritual Kalender Aneuk Jamee di Aceh Selatan

Kilasan Sejarah Kerajaan Islam di Aceh, Indonesia

Kerajaan Islam Aceh Seperti yang kita tahu Provinsi Aceh dikenal dengan sebutan serambi Mekkah dan lekat dengan syariat Islamnya. Sejarah mencatat bahwa Aceh merupakan salah satu pintu masuk penyebaran agama Islam di Indonesia. Masuknya Islam ke Aceh kuat terhadap berdirinya beberapa Kerajaan Islam salah satunya Kerajaan Aceh Darusalam.
Kilasan Sejarah Kerajaan Islam di Aceh, Indonesia
Situs Religi Iconic Aceh, Masjid Raya Baiturrahman
Kerajaan Aceh Darussalam juga disebut dengan Kerajaan Aceh dan Kesultanan Aceh. Berdirinya Kerajaan ini ialah pada ketika menjelang keruntuhan dari Kerajaan Samudera Pasai. Kerajaan ini mengalami puncak masa kejayaan ketika berada di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda.

Artikel ini akan membahas sejarah Kerajaan Aceh secara lengkap. Mencakup sejarah berdiri, masa kejayaan, keruntuhan dan peninggalan kerajaan ini. Berikut ialah penjelasannya untuk anda simak :


DAFTAR ISI ARTIKEL
  • Sejarah Berdirinya Kerajaan Aceh
  • Sultan-Sultan Kerajaan Aceh
  • 1. Sultan Ali Mughayat Syah
  • 2. Sultan Salahuddin
  • 3. Sultan Alaudin Riayat Syah
  • 4. Sultan Iskandar Muda
  • 5. Sultan Iskandar Thani
  • Runtuhnya Kerajaan Aceh
  • Peninggalan Kerajaan Aceh
  • 1. Masjid Raya Baiturrahman
  • 2. Gunongan
  • 3. Mesjid Tua Indrapuri


Sejarah Berdirinya Kerajaan Aceh



Kerajaan Aceh berdiri bersamaan dengan penobatan Sultan Pertamanya, Sultan Ali Mughayat Syah. Penobatan tersebut terjadi pada hari Ahad, 1 Jumadil Awal 913 H. Kerajaan ini mempunyai ibu kota Bandar Aceh Darussalam.

Ada catatan yang menyebutkan bahwa Kerajaan Aceh Darussalam ini didirikan untuk melanjutkan kekuasaan dari Samudera Pasai. Pada masa Kerajaan ini, sektor politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan mengalami perkembangan pesat.


Sultan-Sultan Kerajaan Aceh



 Seperti yang kita tahu Provinsi Aceh dikenal dengan sebutan serambi Mekkah dan lekat deng Kerajaan Islam Aceh

Seperti halnya Kerajaan Islam, raja disebut dengan Sultan. Adapun Sultan-sultan yang pernah memimpin Kerajaan ini ialah :


1. Sultan Ali Mughayat Syah


Sultan Ali Mughayat Syah ialah sultan pertama dari Kerajaan Aceh. Ia memegang tampuk kekuasaan dari tahun 1514-1528 M. Di bawah kuasanya, Kerajaan ini mempunyai wilayah meliputi Banda Aceh- Aceh Besar.

Selain itu, Kerajaan Aceh juga melaksanakan perluasan ke beberapa wilayah di Sumatera Utara, yaitu tempat Daya dan Pasai. Sultan Ali juga melaksanakan serangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka dan juga menaklukkan Kerajaan Aru.


2. Sultan Salahuddin


Salahuddin merupakan anak dari Sultan Ali Mughayat Syah. Setelah meninggalnya Sultan Ali Mughayat Syah, pemerintahan dilanjutkan oleh putranya tersebut. Sultan Salahuddin memerintah dari tahun 1528-1537 M.

Sayangnya, Sultan Salahudin kurang memperhatikan Kerajaannya ketika berkuasa. Maka dari itu, Kerajaan ini sempat mengalami kemunduran. Akhirnya di tahun 1537 M, tampuk kekuasaan pindah ke tangan saudaranya, Sultan Alaudin Riayat Syah.


3. Sultan Alaudin Riayat Syah


Sultan Alaudin Riayat Syah berkuasa  dari tahun 1537-1568 M.  Di bawah kekuasaannya, Kerajaan ini berkembang pesat menjadi Bandar utama di Asia bagi pedagang Muslim mancanegara. Lokasi Kerajaan Aceh yang strategis menjadi peluang untuk menjadikannya sebagai tempat transit bagi rempah-rempah  Maluku. Dampaknya, Kerajaan Aceh ketika itu terus menghadapi Portugis.

Kerajaan Aceh dibawah kepemimpinan Alaudin Riayat Syah juga memperkuat angkatan laut. Selain itu, Kerajaan ini juga membina relasi diplomatik dengan Kerajaan Turki Usmani.


4. Sultan Iskandar Muda


Di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan ini mengalami puncak kejayaannya. Iskandar Muda memimpin dari tahun 1606 – 1636 M. Sultan Iskandar Muda melanjutkan kepemimpinan dari sultan Alauddin Riayat Syah.

Iskandar Muda memperlihatkan terobosan gres untuk Kerajaan. Beliau mengangkat pimpinan etika untuk setiap suku serta menyusun tata negara (qanun) yang menjadi pedoman penyelenggaraan aturan Kerajaan.  Saat itu, Kerajaan Aceh menduduki 5 besar Kerajaan Islam terbesar di dunia sehabis Kerajaan  Maroko, Isfahan, Persia dan Agra.

Kerajaan ini berhasil merebut pelabuhan penting dalam perdagangan (pesisir barat dan timur Sumatera, dan Pesisir barat Semenanjung Melayu). Selain itu, Kerajaan Aceh juga membina relasi diplomatik dengan Inggris dan Belanda untuk memperlemah serangan Portugis.


5. Sultan Iskandar Thani


Sultan Iskandar Tahani memerintah dari tahun 1626-1641 M. Berbeda dengan sultan-sultan sebelumnya yang mementingkan ekspansi, Iskandar Thani memperhatikan pembangunan dalam negeri.

Selain itu, sektor pendidikan agama Islam mulai bangun di masa kepemimpinannya. Terbukti dari lahirnya buku Bustanus salatin yang dibentuk oleh Ulama Nuruddin Ar-Raniry.  Meskipun Iskandar Thani hanya memerintah selama 4 tahun, Aceh berada dalam suasana damai. Syariat Islam sebagai landasan aturan mulai ditegakkan. Hubungan dengan wilayah yang ditaklukkan dijalan dengan suasana liberal, bukan tekanan politik atau militer.



Runtuhnya Kerajaan Aceh


 Seperti yang kita tahu Provinsi Aceh dikenal dengan sebutan serambi Mekkah dan lekat deng Kerajaan Islam Aceh

Kerajaan ini mulai mengalami kemunduran semenjak meninggalnya sultan Iskandar Thani. Hal itu dikarenakan tidak ada lagi generasi yang bisa mengatur tempat milik Kerajaan Aceh yang begitu luas. Akibatnya, banyak tempat taklukan yang melepaskan diri menyerupai Johor, Pahang, dan Minangkabau.

Selain itu, terjadi pertikaian terus menerus antara golongan ulama (Teungku) dan darah biru (Teuku). Pertikaian ini dipicu oleh perbedaan anutan keagamaan (aliran Sunnah wal Jama’ah dan Syiah).

Meskipun begitu, Kerajaan Aceh tetap berdiri hingga kala ke 20. Kerajaan Aceh juga sempat dipimpin beberapa Sultanah (Ratu). Ratu yang pernah memimpin Kerajaan Aceh yaitu  Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675 dan Sri Ratu Naqiatuddin Nur Alam (1675-1678).

Sayangnya, pertikaian yang terjadi terus menerus serta wilayah Kerajaan Aceh yang terus berkurang menciptakan Kerajaan Aceh runtuh di awal kala 20 dan dikuasai oleh Belanda.





Peninggalan Kerajaan Aceh


Peninggalan Kerajaan Aceh

Ada banyak peninggalan-peninggalan Kerajaan Aceh yang masih sanggup kita lihat hingga sekarang. Peninggalan tersebut ialah :


1. Masjid Raya Baiturrahman


Bangunan Masjid ini merupakan pujian rakyat Aceh hingga sekarang. Masjid raya Baiturrahman ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 Masehi. Letaknya sempurna di tengah  pusat Kota Banda Aceh. Mesjid ini pernah dibakar ketika Agresi Militer II dan kesudahannya dibangun kembali oleh pihak Belanda.

Ketika Tsunami 2004 Melanda Aceh, Mesjid ini tetap kokoh berdiri melindungi warga yang berlindung di dalamnya. Sampai ketika ini, masjid ini terus dikembangkan atau direnovasi menjadi lebih cantik. Terakhir,masjid ini telah direnovasi menjadi menyerupai dengan masjid Nabawi di Madinah.


2. Gunongan


Gunongan ini merupakan bangunan yang juga dibangun oleh Sultan Iskandar Muda. Bangunan ini dibangun atas dasar cinta Sultan Iskandar Muda pada seorang Putri dari Pahang (Putroe Phaang).  Sultan Iskandar muda menjadikannya sebagai permaisuri. Karena cintanya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda memenuhi harapan Putroe Phaang untuk membangun sebuah taman sari yang indah yang dilengkapi dengan Gunongan.

Saat ini, Taman Sari dan Gunongan menjadi tempat yang terpisah menjadi taman sari, taman putro phaang dan Gunongan. Letak antara tiga tempat itu hampir berdekatan dengan Masjid raya Baiturrahman sehingga anda gampang mengunjunginya.


3. Mesjid Tua Indrapuri


Masjid ini awalnya ialah sebuah candi peninggalan dari Kerajaan Hindu di Aceh. Namun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, candi ini diubah fungsinya menjadi masjid. Anda masih sanggup melihat bangunan yang strukturnya menyerupai dengan candi namun berpadu dengan nuansa Islami ini di Indrapuri, Aceh Besar.

Selain tiga tempat diatas, masih banyak peninggalan lain yang masih terjaga. Peninggalan berupa benda contohnya uang logam emas, meriam, dan lain-lain. sementara itu, penerapan qanun yang berasal dari pemerintahan sultan Iskandar muda juga diterapkan dalam pemerintahan Aceh ketika ini.

Demikianlah pemaparan lebih lengkap wacana sejarah Kerajaan Aceh. Meskipun Kerajaan ini sudah usang runtuh, imbas nilai-nilai dan peninggalan lainnya masih terjaga di masyarakat Aceh. Oleh sebab itu kita harus melestarikannya.

Nama sultan-sultan dari Kerajaan Aceh ini pun masih dikenang oleh masyarakat Aceh hingga ketika ini. Hal itu memperlihatkan bahwa Kerajaan ini memang menorehkan bekas sejarah yang besar di tanah rencong.

Ciri Khas Pakaian Adat Aceh Untuk Kaum Wanita dan Pria

Pakaian Adat AcehAceh merupakan wilayah Indonesia yang berada di ujung paling barat, berbatasan pribadi dengan Malaysia dan Samudera Hindia. Karena letaknya tersebut maka Aceh dahulu menjadi daerah persinggahan bagi para pedagang dan penyebar agama dari Timur Tengah.

Ciri Khas Pakaian Adat Aceh Untuk Kaum Wanita dan Pria

Pakaian Adat Aceh pun sangat dipengaruhi oleh kebudayaan melayu dan islam. Pakaian adat Aceh biasa digunakan pada ketika upacara penting, seperti acara nikah dan juga ketika menampilkan tarian adat.

Dalam kehidupan sehari-hari, gaya berbusana penduduk Aceh tak terlepas dari syariat islam sehingga Aceh sering disebut juga sebagai serambi Mekah. Aceh terkenal dengan Pulau Sabang nya yang merupakan titik kilometer nol ujung barat Indonesia.

Selain itu Aceh juga dikenal dengan  pahlawan perempuan nya Cut Nyak Dien. Kebudayaan yang dimiliki Tanah Rencong ini tak kalah menarik, contohnya tari saman yang terkenal hingga ke mancanegara. Akulturasi dengan nuansa islam terasa sangat kental.

Pakaian adat Aceh, baik pria maupun perempuan mempunyai ciri khas tersendiri. Hal ini tentu saja menjadikannya menarik dan tidak biasa. Pakaian ini menunjukkan status sosial dalam masyarakat Aceh pada jaman dahulu. Busana adat Aceh untuk pria dan perempuan ialah sebagai berikut:


Pakaian Adat Aceh Untuk Pria


Pakaian Linto Baro Merupakan busana adat yang diperuntukkan bagi laki-laki. Mulanya busana ini digunakan untuk menghadiri upacara adat dan kegiatan pemerintahan pada zaman kerajaan islam yaitu Samudera Pasai dan Perlak.

Pakaian ini terdiri dari tiga bab penting yang tak terpisahkan, yaitu bab atas, tengah dan bab bawah. Berikut ulasan lengkap dari 3 bab penting dari Linto baro tersebut dan 1 senjata tradisional sebagai pelengkap:

1. Meukasah


Meukasah ialah pakaian adat Aceh berupa baju yang ditenun menggunakan benang sutra. Baju Meukasah biasanya berwarna hitam, hal ini dikarenakan masyarakat Aceh mempercayai bahwa warna hitam ialah lambang kebesaran.

Baju ini tertutup pada bab kerah dan terdapat sulaman yang dijahit menggunakan benang emas. Ditenggarai hal ini terjadi alasannya ialah perpaduan antara budaya Aceh dan China yang dibawa oleh para pedagang yang melintas.

2. Sileuweu


Sileuweu atau Cekak Musang merupakan celana panjang berwarna hitam yang digunakan oleh pria Aceh. Celana ini terbuat dari kain katun yang ditenun dan melebar pada bab bawahnya. Pada bab tersebut diberi hiasan sulaman yang terbuat dari benang emas dengan rujukan yang indah.

Dalam penggunaannya celana ini dilengkapi dengan kain sarung songket yang dibentuk dari sutra dan diikatkan di pinggang. Kain sarung ini biasa dikenal dengan sebutan Ija Lamgugap, Ija krong atau Ija Sangket yang mempunyai panjang di atas lutut.


3. Meukeutop


Meukeutop merupakan epilog kepala yang melengkapi pakaian adat Aceh. Penutup kepala ini berupa kopiah yang mempunyai bentuk lonjong ke atas. Meukeutop dihiasi dengan lilitan yang di sebut dengan tengkulok.

Tengkulok ialah kain tenun sutra yang dilengkapi dengan bentuk bintang persegi delapan yang terbuat dari emas maupun kuningan.

Meukotop yang merupakan mahkota pria ini juga termasuk bukti kuatnya imbas islam yang berasimilasi dalam kebudayaan masyarakat di Aceh.


4. Rencong


Rencong ialah senjata tradisional penduduk Aceh yang sangat khas. Senjata tradisional yang berjulukan Rencong atau Siwah digunakan sebagai penghias yang diselipkan di bab pinggang. Senjata ini mempunyai kepala yang terbuat dari emas atau perak yang dihiasi dengan permata.

Rencong merupakan belati yang berbentuk menyerupai abjad L. Pada jaman dulu rencong yang mempunyai hiasan digunakan oleh para sultan dan pembesar. Sedangkan untuk rakyat, bab kepala rencong biasanya terbuat dari tanduk hewan. Mata belatinya sendiri terbuat dari besi berwarna putih atau kuningan yang diasah tajam.


Pakaian Adat Aceh Untuk Wanita


Pakaian Dara Baro merupakan pakaian adat Aceh yang diperuntukkan bagi wanita. Pakaian ini berwarna lebih cerah kalau dibandingkan dengan pakaian pria dan banyak variasi.

Biasanya pakaian ini berwarna merah, hijau, ungu dan kuning. Peukayan Daro Baro mempunyai lebih banyak hiasan sebagai pelengkapnya.

Seperti Linto Baro, Daro Baro juga terdiri dari tiga bab yaitu bab atas, bab tengah dan bab bawah. Pakaian ini juga masih menggunakakan ciri yang islami. Bagian-bagian Daro Baro ialah sebagai berikut:


1. Baju Kurung


Dari bentuknya Baju Kurung merupakan adonan dari kebudayaan Melayu, Arab dan China. Baju ini berbentuk longgar dengan lengan panjang yang menutupi lekuk badan wanita.

Baju ini juga menutupi bab pinggul yang merupakan aurat. Pada jaman dahulu baju ini dibentuk menggunakan tenunan benang sutra. Baju kurung mempunyai kerah pada bab leher dan bab depannya terdapat boh dokma.

Dibagian pinggang dililitkan kain songket khas Aceh atau yang biasa disebut dengan Ija Krong Sungket. Kain ini menutupi pinggul dan baju bab bawah yang diikat menggunakan tali pinggang yang dibentuk dari emas maupun perak.

Tali pinggang tersebut dikenal dengan nama taloe ki ieng patah sikureueng yang mempunyai arti tali pinggang patah sembilan.


2. Celana Cekak Musang


Sama menyerupai celana pada laki-laki. Cekak Musang juga mempunyai bentuk melebar pada bab bawah, namun mempunyai warna yang cerah sesuai dengan baju yang dipakai. Celana ini juga dilapisi dengan sarung tenun yang menjuntai hingga ke lutut.

Biasanya pada pergelangan kaki celana ini terdapat hiasan berupa sulaman benang emas yang mempercantik tampilannya. Celana ini juga sering digunakan perempuan Aceh dalam persembahan tarian tradisional.


3. Perhiasan


Perhiasan yang digunakan untuk melengkapi pakaian adat Aceh bagi perempuan beraneka ragam. Seperti Patam Dhoe yang berbentuk mahkota, pada bab tengahnya diukir menggunakan motif daun sulur.

Mahkota ini terbuat dari emas dengan bab kanan dan kirinya dihiasi oleh motif pepohonan, daun dan bunga. Pada bab tengahnya diukir kaligrafi bertuliskan Allah dan Muhammad menggunakan abjad arab.

Motif tersebut biasa disebut dengan bungong kalimah yang dikelilingi oleh bunga-bunga dan bulatan-bulatan yang mempunyai arti bahwa perempuan tersebut telah menikah dan menjadi tanggung jawab sang suami.

Selanjutnya yaitu anting-anting yang disebut dengan subang yang terbuat dari emas dengan motif bulatan kecil atau boh eungkot. Hiasan pada bab bawahnya berbentuk rumbai untuk memperindah tampilannya.

Selain itu juga terdapat subang lain yang disebut dengan subang bungong mata uroe atau  anting yang berbentuk menyerupai bunga matahari.

Kemudian ada kalung yang dibentuk dari emas yang mempunyai enam buah keping bentuk hati dan satu buah keping berbentuk menyerupai kepiting. Kalung ini oleh masyarakat Aceh biasa dikenal dengan sebutan  Taloe Tokoe Bieng Meuih.

Ada pula kalung yang terbuat dari emas bermotif daun sirih, dan juga kalung azimat yang mempunyai manik-manik bermotif boh bili. Lalu ada gelang tangan atau Ikay, Gleuang Goki atau gelang kaki dan juga cinci Euncien Pinto Aceh yang terbuat dari emas kuning maupun putih.

Demikianlah macam pakaian adat Aceh dan bagian-bagiannya yang dijelaskan secara lengkap. Kedua pakaian adat Aceh tersebut biasanya digunakan ketika pernikahan. Sebagai warga Indonesia.

Alangkah baiknya kalau kita turut menjaga kelestarian budaya dan adat istiadat dari bermacam-macam suku yang ada di Nusantara. Cara menjaganya salah satunya dengan menggunakan pakaian adat yang kita miliki ketika melangsungkan pernikahan.

Lokasi Panjat Tebing Di Banda Aceh Dan Aceh Besar


Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh besar yakni dua wilayah dari Propinsi Aceh yang terletak sempurna di ujung Pulau Sumatera dan Banda Aceh merupakan ibukota dari Propinsi Aceh. Kota Islam tertua di Asia Tenggara ini berbatasan pribadi dengan Selat Malaka dan Samudera Hindia.

Kabupaten Aceh Besar sebelah barat yang berbatasan pribadi dengan Samudera Hindia banyak terdapat tebing – tebing curam di sepanjang pesisirnya, disini terdapat daerah karst yang sudah cukup terkenal yaitu di desa Naga Umbang, Lhoknga.

Bagi seorang pemanjat tebing daerah karst merupakan salah satu tempat yang paling dicari sebab sudah niscaya banyak terdapat tebing yang umumnya sangat layak untuk dipanjat. Selama berdomisili di Banda Aceh penulis sering memanjat di beberapa lokasi di daerah ini.

Dari beberapa tempat yang menjadi favorit para pemanjat, penulis akan membahas 3 (tiga) lokasi panjat yang paling terkenal di Banda Aceh dan Aceh Besar yang tentunya juga sanggup menjadi acuan bagi pembaca yang kebetulan berada di daerah ini dan ingin memanjat disini.

Lokasi Panjat Tebing Mata Ie


Lokasi pertama yang paling terkenal di Banda Aceh ada di daerah Mata Ie - Aceh Besar, hampir 90 persen pemanjat daerah ini niscaya pernah menjajal tebing disini. Letaknya sekitar 200 meter dari tempat rekreasi bak pemandian mata ie, kalau dari sentra kota hanya membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 menit untuk ke lokasi

Jikalau memakai sepeda motor anda sanggup pribadi memarkir kendaraan sempurna di bawah tebing.

Lokasi Tebing Mata Ie

Jalur Untuk Panjat Tebing


Selain lokasi yang gampang dijangkau yang menciptakan tebing ini cukup terkenal yakni sebab tingkat kesulitannya (grade) yang tidak begitu berat juga tinggi jalur yang tidak begitu signifikan hanya sekitar 8 hingga 10 meter saja dan mempunyai satu jalur panjat. Walaupun tebing ini sangat cocok untuk pemanjat pemula tapi banyak juga pemanjat yang harus mencobanya berkali-kali sebelum risikonya berhasil menuntaskan jalur. 

Jalur Panjat di Tebing Mata Ie
Hampir setiap ahad lokasi ini dikunjungi oleh pemanjat dari FPTI Banda Aceh ataupun dari FPTI Aceh Besar untuk latihan dan berguru panjat tebing alam. Jalur panjat ditebing ini sanggup dipanjat dengan system top rope, lead ataupun trad climbing. Maka tidak heran banyak pemanjat – pemanjat hebat yang lahir dan mahir dari tebing ini.

Jalur Untuk Bouldering


Bersebelahan dengan lokasi panjat tebing diatas terdapat sebuah kerikil besar yang juga cukup terkenal sebagai tempat bouldering di daerah ini. Sebuah kerikil yang cukup besar bahkan di salah satu sisinya mempunyai ketinggian mencapai 4 meter sanggup di kategorikan Highball Bouldering. Permukaan kerikil yang bervariasi membentuk jalur panjat yang terbilang lengkap di kerikil ini, mulai dari blank, over hang, roof, dan slab ada di kerikil ini.

Menjajal Jalur Boulder di Mata Ie
Penulis sangat menyukai tempat ini dan paling sering kemari baik bersama sahabat ataupun sendiri, bahkan pernah menghabiskan waktu satu hari penuh hanya untuk menuntaskan satu jalur boulder saja disini. Dengan sedikit kreatifitas hampir setiap sisi kerikil ini sanggup dijadikan jalur panjat (baca; problem) untuk bouldering.


Koordinat Lokasi Tebing Mata Ie Di Google Map




Lokasi Tebing Lampuuk


Lokasi tebing lampuuk masuk dalam salah satu daerah wisata pantai andalan di Kabupaten Aceh Besar. Lokasi wisata ini mempunyai garis pantai sekitar 5 kilometer, dengan pasir putih dan air berwarna biru kehijauan, oleh sebab itu daerah yang satu ini hampir selalu ramai dikunjungi terutama di hari-hari libur. Berjarak lebih kurang 20 kilometer dari sentra kota Banda Aceh. Lokasi tebing dikawasan ini terletak dibagian paling ujung pantainya.

(Lokasi Tebing Lampuuk)

Tinggi tebing di lokasi ini sekitar 30 meter dengan panjang tebing lebih dari 100 meter. Terdapat beberapa jalur panjat disini dengan tingkat kesulitan yang bervariasi. Dilokasi ini juga terdapat jalur panjat yang dibentuk oleh Komunitas Panjat Tebing Merah Putih pimpinan kang Tedi Ixdiana yang merupakan cuilan dari 1000 jalur panjat tebing untuk Indonesia.
(Menjajal Tebing Lampuuk)
Banyak para pemanjat terutama dari komunitas pecinta alam yang sering melaksanakan olahraga panjat tebing atau bouldering di daerah ini. Untuk menyiasati ramainya pengunjung yang tiba penulis sendiri lebih sering kesini bersama teman-teman justru di hari-hari kerja sebab relatif sepi jadi tidak terganggu oleh pengunjung yang ingin berwisata. Selain memanjat untuk kepuasan pribadi anda juga akan menerima bonus berupa suasana pantai yang sangat indah dikawasan ini.

KOORDINAT LOKASI TEBING LAMPUUK DI GOOGLE MAP


Lokasi Panjat Tebing Pucok Krueng


Lokasi ini berada di dikawasan Lhoknga Aceh Besar, Berjarak lebih kurang 4 kilometer dari jalan utama Lhoknga di belakang Pabrik Semen Andalas. Pucok Krueng yakni sebuah hulu sungai yang bermuara ke pantai lhoknga, jadi area ini yakni titik pertama munculnya sumber air sungai di daerah tersebut.

Di beberapa titik lokasi daerah ini banyak terdapat tebing – tebing tinggi khas daerah karst yang layak panjat namun hanya beberapa lokasi saja yang telah mempunyai jalur dikarenakan jalan masuk menuju ke lokasi beberapa titik tebing masih sangat sulit.

Lokasi Tebing Pucok Krueng
Jalan menuju ke lokasi tebing sanggup dilewati oleh sepeda motor untuk kendaraan beroda empat hanya sanggup dilewati oleh satu jalur kendaraan saja jadi masih harus sangat berhati - hati, namun karena track menuju ke lokasi masih berbatu menciptakan perjalanan terasa panjang apalagi di ekspresi dominan penghujan tetapi sebagai gantinya anda akan disuguhkan pemandangan yang tidak mengecewakan memanjakan mata disepanjang jalan anda akan melihat lahan perkebunan warga, persawahan dan pemikiran sungai yang masih alami. Pada hari libur lokasi ini banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal dan tidak jarang juga wisatawan abnormal kerap terlihat berkunjung untuk menikmati keindahan alam disini.

Lokasi tebing pucok krueng sangat cocok untuk aktifitas swimming, camping, kayaking, caving dan rock climbing. Mengingat hampir semua lokasi dikawasan ini terdiri dari tebing terjal, goa dan pemikiran sungai. Selain jalur lead dan bouldering disini juga terdapat tebing untuk multi picth dan bagi yang ingin mencicipi sensasi terjun pribadi ke air sesudah memanjat juga ada jalur untuk deep water solo (dws). Penulis sendiri sering kesini bukan hanya untuk memanjat tetapi terkadang hanya untuk menikmati keindahan alam dikawasan ini. Selalu ada hal gres yang sanggup di explorasi disini. Bagi komunitas panjat tebing ataupun pencinta alam lokasi ini sering dijadikan tempat latihan pemantapan keahlian teknik panjat tebing.

KOORDINAT LOKASI TEBING PUCOK KRUEN DI GOOGLE MAP

18 Destinasi Wisata Di Kota Sabang Yang Mengesankan

Dalam pelajaran geografi kita mengenal Kota Sabang sebagai kota paling barat di Indonesia. Secara administratif, Sabang masuk dalam wilayah provinsi Aceh, namun secara lokasi Sabang terletak di Pulau Weh. Sabang mempunyai banyak pulau-pulau kecil yang tersebar di sisi utara dan barat dengan Pulau Weh sebagai pulau terbesarnya, dan Pulau Rondo sebagai pulau yang terletak paling utara.

Sabang yang terletak di pulau weh banyak dikenal melalui panorama alam pantainya yang mengesankan. Tidak heran bila Sabang dijadikan tuan rumah untuk aneka ekspo kelautan ibarat Sail Sabang pada 2017 kemudian dan Sabang Marine Festival April tahun ini. Sabang sekarang juga telah mempunyai Sabang Yacht Club yang terkoneksi dengan Yacht Club lain di Asia Tenggara.


Destinasi Wisata Di Kota Sabang Yang Mengesankan
Destinasi Wisata Di Kota Sabang Yang Mengesankan. Image credit: @vebrianz

Tidak hanya panorama pantainya saja yang bagus, Sabang juga mempunyai banyak destinasi wisata lain yang akan menciptakan liburanmu semakin berkesan. Baca terus dongeng lengkapnya ya.


1. Pantai Iboih


Pantai Iboih. Image credit: @nicole.hsinchia

Pantai yang satu ini sanggup dibilang pantai yang jadi ikon Kota Sabang. Lokasinya hanya 30 menit dari sentra kota. Situasi pantai dan ombak yang hening menciptakan pantai ini sangat cocok untuk dijadikan tempat bersantai. Alam bawah lautnya yang manis juga jangan hingga dilewatkan begitu saja. Ada banyak tersedia banyak sekali tipe penginapan di bersahabat pantai kalau kau ingin menghabiskan lebih banyak waktu di sini.

Klik di sini untuk melihat koordinat lokasi


2. Pantai Sumur Tiga


Image credit: @adrianyyen (kiri), @aiu_omeng (kanan)

Di sisi timur Kota Sabang terdapat sebuah pantai yang jadi favorit banyak orang untuk menikmati sunrise. Pasir pantainya yang putih dan jernihnya air pantai akan membuatmu betah berlama-lama di sini. Nama sumur tiga diambil dari sejarah tiga sumur air tawar yang konon katanya berada di area pantai ini. Kamu juga sanggup menghabiskan waktu siangmu dengan makan- makan di warung seafood yang banyak tersebar di area pantai.

Klik di sini untuk melihat koordinat lokasi


3. Pantai Anoi Itam



Wisata Pulau Weh
Pantai Anoi Itam. Image credit: @azraazuar (kiri), @erlina_ind (kanan)

Berbeda dengan dua pantai sebelumnya, pantai yang satu ini pasirnya berwarna hitam. Asal muasal pasir pantai Anoi berwarna hitam ialah alasannya berasal dari letusan gunung berapi di Pulau Weh. Pasir di sini dipercaya sanggup menyembuhkan penyakit kulit lho. Warna hitam pasirnya sangat kontras dengan warna air jernih di pantai sehingga menunjukkan pemandangan yang mungkin tidak sanggup kau temukan di tempat yang lain.

Klik di sini untuk melihat koordinat lokasi


4. Danau Aneuk Laot



Danau Aneuk Laot Sabang
Image credit: @edwingirsang


Danau terbesar di Pulau Weh ini merupakan sumber air tawar bagi masyarakat Kota Sabang dan sekitarnya. Berbagai macam kegiatan menyenangkan sanggup kau lakukan di sini, di antaranya ialah bersantai di pinggiran danau, kayaking, atau sekedar menikmati pemandangan Gunung Marapi dari kejauhan.


5. Air Terjun Pria Laot


Pulau Weh
Air Terjun Pria Laot. Image credit: @reinaldycb

Air terjun ini sangat menarik untuk dikunjungi. Letaknya yang berada di area hutan menciptakan tempat jeram terasa sangat asri dan menyejukkan. Kolam air terjunnya mempunyai kedalaman 1,5 hingga 2 meter. Kamu sanggup mandi berendam di sini sepuasnya. Keberadaan ikan bulan yang berada di kolam jeram ini menciptakan mandi berendam makin asyik alasannya terasa ibarat digelitik oleh ikan-ikan tersebut. Ikan bulan tidak berbahaya dan bahkan kabarnya malah sanggup dijadikan ikan terapi untuk banyak sekali duduk perkara kesehatan. Wah, unik sekali ya.


6. Gua Sarang


Gua Sarang. Image credit: @febbykhairuna (kiri), @muhammadramazan8 (kanan)

Gua Sarang ini sering disebut Raja Ampatnya Sabang. Gua Sarang sejatinya merupakan gua yang menjadi sarang burung walet. Terdapat tujuh gua yang berlokasi di kaki tebing dan perbukitan hutan lindung. Ketujuh gua ini berdiri dengan kokoh di atas lautan biru Pulau Weh yang pribadi berbatasan dengan Samudera Hindia. Dijamin pemandangan di sini tidak akan pernah sanggup kau lupakan.


7. Tugu Nol Kilometer


Tugu Nol Kilometer Image credit: @penggowes

Berkunjung ke Sabang tentunya tidak lengkap tanpa berfoto di depan tugu nol kilometer Indonesia. Karena lokasinya yang berada di tempat hutan, jangan heran kalau sepanjang perjalanan menuju monumen kau akan banyak menjumpai monyet-monyet yang berjalan bebas. Tinggi tugu nol kilometer ini mencapai 43,6 meter dengan empat pilar penyangga yang megah. Fasilitas di sekitar area wisata sudah sangat memadai. Mulai dari tempat makan hingga toilet dan toko buah tangan sanggup dengan gampang kau temui di sini.

Klik di sini untuk melihat koordinat lokasi


8. Pantai Ujung Kareung



Pantai Ujung Kareung. Image credit: @niealiiana (kiri), @dodysijabat (kanan)

Tidak hanya sanggup bermain-main di area pantai yang berpasir, di sini kau juga akan dimanjakan dengan jajaran watu karang megah kolam mahkota. Bahkan sekarang kau sanggup terjun dari atas watu karang ini lho. Untuk keamanan, jangan khawatir, kedalaman air di bawah karang ini hanya sekitar 4 hingga 5 meter tanpa ada batuan di bawahnya. Berani mencobanya?

Klik di sini untuk melihat koordinat lokasi


9. Benteng Bunker Jepang



Benteng Bunker Jepang. Image credit: @jordan_exel (kiri), @shiddiq2711 (kanan)

Dulu, Kota Sabang mempunyai posisi geografis yang strategis sehingga tidak heran bila Jepang membangun benteng pertahanannya di sini. Bukan sembarang benteng tapi merupakan benteng bawah tanah. Benteng ini tersebar di area garis pantai Pulau Weh namun yang masih terlihat terang ialah benteng yang terdapat di bersahabat Pantai Anoi Itam. Menurut keterangan warga sekitar, benteng ini bahkan mempunyai lorong-lorong bawah tanah menuju area yang dulunya menjadi sentra komando.

Klik di sini untuk melihat koordinat lokasi


10. Sirui Hidrothermal



Sirui Hidrothermal. Image credit: @ajeng_kroff

Ada satu destinasi wisata unik yang mungkin tidak akan kau temui di kota lain di Indonesia. Namanya Sirui Hidrothermal. Sirui Hidrothermal ini tidak lain ialah tempat gunung api bawah laut. Di sini kau sanggup melaksanakan penyelaman dan melihat gelembung-gelembung udara keluar dari kawah-kawah kecil. Aneka ikan-ikan unik yang lain dari biasanya juga sanggup kau jumpai berseliweran kesana kemari. Unik sekali bukan? Tidak heran bila Sirui jadi destinasi wisata ini sangat diminati banyak wisatawan domestik maupun mancanegara.

Klik di sini untuk melihat koordinat lokasi


11. Pemandian Air Panas Keuneukai



Pemandian Air Panas Keuneukai. Image credit: @hijrahheiji

Sabang ternyata mempunyai gunung berapi yang masih aktif lho, namanya Gunung Jaboi. Dari gunung inilah muncul sumber mata air panas yang kemudian dimanfaatkan menjadi tempat wisata pemandian. Di sini, kau sanggup berendam dan meregangkan otot-otot di kolam air panas, sambil menikmati pemandangan pantai yang elok.

Klik di sini untuk melihat koordinat lokasi


12. Sabang Hill



Sabang Hill. Image credit: @shewalkstheworld

Jika ingin melihat kota dan teluk Sabang dari ketinggian, cobalah tiba ke Sabang Hill. Sabang Hill sendiri sebetulnya merupakan nama hotel yang berada di area perbukitan. Namun warga masyarakat sekitar berinisiatif membangun gardu pandang yang sanggup dipakai oleh masyarakat umum untuk melihat pemandangan indah Kota Sabang.

Klik di sini untuk melihat koordinat lokasi


13. Pantai Kasih



Pantai Kasih. Image credit: @eni_jenikawati
Pantai Kasih sanggup jadi destinasi pertama yang kau kunjungi di Sabang. Jaraknya cuma 5 menit dari sentra kota. Di sini banyak tersedia bangku-bangku yang sanggup kau duduki sambil bersantai menikmati aliran angin sepoi-sepoi. Pantai ini semakin ramai pada sore hari alasannya merupakan salah satu spot terbaik untuk menikmati pemandangan matahari tenggelam.


14. Pantai Gapang


Pantai Gapang. Image credit: @contagiousd3lirium (kiri), @bebytsabina (kanan)


Meski lokasinya cukup terpencil, namun perjalanan yang jauh akan terbayar lunas sesudah kau hingga ke pantai ini. Pantainya sangat hening dengan beberapa kapal nelayan tradisional yang bersandar. Pantai ini merupakan pantai dengan garis pantai terpanjang di Sabang dan sangat tenang. Pantainya pribadi terhubung dengan lautan luas menunjukkan pemandangan yang tidak terlupakan. Air pantainya sangat jernih hingga kau sanggup dengan terang melihat ikan-ikan yang berenang di sekitar dermaga. Menyenangkan, bukan


15. Pantai Tapak Gajah


Pantai Tapak Gajah. Image credit: @surga.nusantara

Belum ada riwayat terang mengenai pemberian nama Pantai Tapak Gajah. Namun keindahan pantai ini tidak perlu diragukan lagi. Jaraknya juga cuma 5 menit dari sentra kota Sabang. Aktivitas terkenal di pantai ini ialah snorkeling berkenalan dengan biota bawah maritim yang indah dan cantik. Pantai ini mempunyai banyak rimbunan semak-semak yang membuatnya sedikit berbeda dari pantai lain di Sabang.


17. Pulau Rubiah


Pulau Rubiah. Image credit: @fahmi_yoza (kiri), @putra_ds_42 (kanan)

Tidak lengkap rasanya kalau ke Sabang tanpa melaksanakan island hopping. Salah satu pulau yang wajib kau kunjungi ialah Pulau Rubiah. Destinasi wisata yang sanggup kau temui di sini tidak lain ialah Taman Laut Rubiah yang menghadirkan pesona kekayaan alam bawah maritim terindah di Sabang. Meski tidak berpenghuni tapi sudah cukup banyak warung dan tempat penyewaan alat-alat snorkeling yang tersedia di sekitar pantainya. Untuk menuju ke sini kau sanggup menyebrang dari Pantai Iboih dengan waktu tempuh kurang lebih sekitar 30 menit.


18. Gunung Jaboi


Gunung Jaboi. Image credit: @piyohdesign

Kalau ingin sesuatu yang lebih menantang, kau sanggup coba mendaki Gunung Jaboi yang merupakan gunung api aktif di Pulau Weh. Ketinggian gunung ini tidak lebih dari 200 mdpl dengan jalur trekking yang cukup mudah. Pemandangannya pun tidak kalah menakjubkan. Batuan pegunungan yang berwarna putih tampak kontras dengan area hutan di sekitarnya yang hijau.


Ternyata banyak sekali ya destinasi wisata di Kota Sabang yang mengagumkan dan mengesankan. Nggak rugi deh kalau liburan ke sini. Yuk segera rencanakan liburanmu ke Sabang dan dapatkan pengalaman liburan yang unik dan tentunya berkesan.