Loading...
Showing posts with label Religi. Show all posts
Showing posts with label Religi. Show all posts

Melirik Kerukunan Beragama, Adat dan Budaya di Bali dan Menjadikan Objek Wisata Menarik

Diantara banyaknya objek wisata di pulau Bali yang hadir dalam paket wisata alam, pantai dan lainnya, ini dia keunikan lainnya dari Pulau dewata ini.


Ya ... Kerukunan beragama, adat dan budaya menjadi sisi yang sangat unik bagi pengunjung wisata.

Bali dengan sebutan lain adalah Pulau Dewata memiliki pantai-pantai, keasrian alam dan masih banyak lagi objek wisata menarik di pulau ini. Tidak hanya itu Kerukunan dalam beragama, adat dan Budaya juga menjadi Objek Wisata yang tidak kalah menariknya


Bali familiar dengan bait sastra yang digunakan sebagai slogan lambang negara Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Manggrua. Yang bermakna Kendati berbeda namun tetap satu jua, tiada duanya (Tuhan - Kebenaran) itu.


Bisa dipahami jika masyarakat Bali dapat hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain seperti Islam, Kristen, Budha, dan lainnya. Pandangan ini merupakan bantahan terhadap penilaian sementara orang bahwa Agama Hindu memuja banyak Tuhan.



desa panglipuran bali

Masyarakat Hindu Bali menyebut Tuhan dengan berbagai nama, namun yang dituju tetaplah satu yakni Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa, yang disebut Tri Murti, kendati terpilah tiga, namun terkait satu jua sebagai proses lahir-hidup-mati atau utpeti-stiti-pralina.


Dewata Nawa Sanga sebagai sembilan Dewata yang menempati delapan arah mata angin dan satu di tengah kendati terpilah sembilan lalu menjadi sebelas tatkala terpadu dengan lapis ruang ke arah vertikal bawah-atas-tengah atau bhur-bwah-swah, adalah satu jua sebagai kekuatan Tuhan dalam menjaga keseimbangan alam semesta.


Demikian pula halnya dengan nama dan sebutan lain yang dimaksudkan secara khusus memberikan gelar atas ke-Mahakuasa-an Tuhan.


Wisata Bali : 9 Pura Tekenal di Bali Yang Unik

Keyakinan umat Hindu terhadap keberadaan Tuhan/Hyang Widhi yang Wyapi Wyapaka atau ada di mana-mana juga di dalam diri sendiri - merupakan tuntunan yang selalu mengingatkan keterkaitan antara karma atau perbuatan dan pahala atau akibat, yang menuntun prilaku manusia ke arah Tri Kaya Parisudha sebagai terpadunya manacika, wacika, dan kayika atau penyatuan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik.


Umat Hindu percaya bahwa alam semesta beserta segala isinya adalah ciptaan Tuhan sekaligus menjadi karunia Tuhan kepada umat manusia untuk dimanfaatkan guna kelangsungan hidup mereka.


Karena itu tuntunan sastra Agama Hindu mengajarkan agar alam semesta senantiasa dijaga kelestarian dan keharmonisannya yang dalam pemahamannya diterjemahkan dalam filosofi Tri Hita Karana sebagai tiga jalan menuju kesempurnaan hidup, yaitu:



Hubungan manusia dengan Tuhan


Sebagai atma atau jiwa dituangkan dalam bentuk ajaran agama yang menata pola komunikasi spiritual lewat berbagai upacara persembahan kepada Tuhan.


Karena itu dalam satu komunitas masyarakat Bali yang disebut Desa Adat dapat dipastikan terdapat sarana Parhyangan atau Pura, disebut sebagai Kahyangan Tiga, sebagai media dalam mewujudkan hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi.



Hubungan manusia dengan alam lingkungannya


Sebagai angga atau badan tergambar jelas pada tatanan wilayah hunian dan wilayah pendukungnya (pertanian) yang dalam satu wilayah Desa Adat disebut sebagai Desa Pakraman.


Hubungan manusia dengan sesama manusia


Sebagai khaya atau tenaga yang dalam satu wilayah Desa Adat disebut sebagai Krama Desa atau warga masyarakat, adalah tenaga penggerak untuk memadukan atma dan angga.

Pelaksanaan berbagai bentuk upcara persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa oleh umat Hindu disebut Yadnya atau pengorbanan/korban suci dalam berbagai bentuk atas dasar nurani yang tulus.


Pelaksanaan Yadnya ini pada hakekatnya tidak terlepas dari Tri Hita Karana dengan unsur-unsur Tuhan, alam semesta, dan manusia.


Didukung dengan berbagai filosofi agama sebagai titik tolak ajaran tentang ke-Mahakuasa-an Tuhan, ajaran Agama Hindu menggariskan pelaksanaan Yadnya dalam lima bagian yang disebut Panca Yadnya, yang diurai menjadi:



1. Dewa Yadnya

Persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Upacara Dewa Yadnya ini umumnya dilaksanakan di berbagai Pura, Sanggah, dan Pamerajan (tempat suci keluarga) sesuai dengan tingkatannya. Upacara Dewa Yadnya ini lazim disebut sebagai piodalan, aci, atau pujawali.


2. Pitra Yadnya

Penghormatan kepada leluhur, orang tua dan keluarga yang telah meninggal, yang melahirkan, memelihara, dan memberi warna dalam satu lingkungan kehidupan berkeluarga.

Masyarakat Hindu di Bali meyakini bahwa roh leluhur, orang tua dan keluarga yang telah meninggal, sesuai dengan karma yang dibangun semasa hidup, akan menuju penyatuan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.


Keluarga yang masih hiduplah sepatutnya melaksanakan berbagai upacara agar proses dan tahap penyatuan tersebut berlangsung dengan baik.



3. Rsi Yadnya

Persembahan dan penghormatan kepada para bijak, pendeta, dan cerdik pandai, yang telah menetapkan berbagai dasar ajaran Agama Hindu dan tatanan budi pekerti dalam bertingkah laku.


4. Manusia Yadnya

Suatu proses untuk memelihara, menghormati, dan menghargai diri sendiri beserta keluarga inti (suami, istri, anak). Dalam perjalanan seorang manusia Bali, terhadapnya dilakukan berbagai prosesi sejak berada dalam kandungan, lahir, tumbuh dewasa, menikah, beranak cucu, hingga kematian menjelang.

Upacara magedong-gedongan, otonan, menek kelih, pawiwahan, hingga ngaben, adalah wujud upacara Hindu di Bali yang termasuk dalam tingkatan Manusa Yadnya.



5. Bhuta yadnya

Prosesi persembahan dan pemeliharaan spiritual terhadap kekuatan dan sumber daya alam semesta. Agama Hindu menggariskan bahwa manusia dan alam semesta dibentuk dari unsur-unsur yang sama, yaitu disebut Panca Maha Bhuta, terdiri dari Akasa (ruang hampa), Bayu (udara), Teja (panas), Apah (zat cair), dan Pertiwi (zat padat).

Karena manusia memiliki kemampuan berpikir (idep) maka manusialah yang wajib memelihara alam semesta termasuk mahluk hidup lainnya (binatang dan tumbuhan).


Panca Maha Bhuta, yang memiliki kekuatan amat besar, jika tidak dikendalikan dan tidak dipelihara akan menimbulkan bencana terhadap kelangsungan hidup alam semesta. Perhatian terhadap kelestarian alam inilah yang membuat upacara Bhuta Yadnya sering dilakukan oleh umat Hindu baik secara insidentil maupun secara berkala.


Bhuta Yadnya memiliki tingkatan mulai dari upacara masegeh berupa upacara kecil dilakukan setiap hari hingga upacara caru dan tawur agung yang dilakukan secara berkala pada hitungan wuku (satu minggu), sasih (satu bulan), sampai pada hitungan ratusan tahun.


Demikianlah Sekilas tentang Kerukunan Beagama, Adat dan Budaya di Bali yang di kemas menjadi satu kesatuan dari penampilan Objek Wisata yang sangat menarik untuk di kunjungi serta menambah pengetahuan wawasan bagi siapa saja yang mengunjungi pulau dewata ini.

7 Destinasi Wisata Religi Favorit Banda Aceh yang harus kamu kunjungi

Wisata Religi Banda Aceh
7 Destinasi Wisata Religi Favorit Banda Aceh

Wisata ReligiKota Banda Aceh merupakan kota Islam yang paling tua di Asia Tenggara, di mana Kota Banda Aceh merupakan ibu kota dari provinsi Aceh. Banda Aceh memiliki banyak destinasi wisata yang layak dikunjungi diantaranya objek wisata religi, objek wisata sejarah, wisata pantai, wisata kuliner dan wisata-wisata lainnya.

Jika anda melawat ke kota banda aceh jangan lupa untuk mengunjungi beberapa objek wisata religi sehingga dapat menambah dan menyegarkan dahaga spiritual anda. Berikut 7 wisata religi favorit yang ramai di kunjungi oleh wisatawan terutama pada hari-hari besar islam.


1. Masjid Raya Baiturrahman



Wisata Favorit Masjid Raya Baiturrahman
Wisata Favorit Masjid Raya Baiturrahman @hendramurdani
Masjid ini merupakan Kebanggaan Rakyat Aceh banyak guratan sejarah yang membekas pada Masjid ini. Masjid Baiturrahman adalah sebuah masjid kesultanan Aceh yang di bangun oleh Sultan Iskandar Muda (1022 H/1612).

Pada transisi sejarah yang sangat panjang Masjid ini pernah di bakar belanda (10 April 1873) dan dibangun kembali pada tahun 1877 oleh belanda dengan maksud merebut simpati dari rakyat aceh.


Masjid Baiturrahman merupakan salah satu masjid terindah di Indonesia yang memiliki arsitektur yang memukau, ukiran dan halaman masjid yang telah di pugar untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.


Masjid ini pernah di hantam oleh Tsunami, namun terhindar dari kerusakan parah. banyak kisah yang menjadi saksi mata bahwa Masjid Baiturrahman menjadi tempat mengunggsi nya warga sekitar dari amukan dahsyat Gempa dan Tsunami.


Lokasi :


Destinasi Wisata Religi Masjid Raya terletak di Kp. Baru, Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh


2. Masjid Baiturrahim



Masjid Baiturrahim Ulhee Lheue
Masjid Baiturrahim Ulhee Lheue Foto : @anggafara

Masjid Baiturrahim adalah salah satu masjid bersejarah di provinsi Aceh, Indonesia. Masjid ini merupakan peninggalan Sultan Aceh pada abad ke-17. Masa itu masjid tersebut bernama Masjid Jami’ Ulee Lheu. Pada 1873 ketika Masjid Raya Baiturrahman dibakar Belanda, semua jamaah masjid terpaksa melakukan salat Jumat di Ulee Lheue. Dan sejak saat itu namanya menjadi Masjid Baiturrahim.


Pada Awalnya Masjid ini di bangun dari material kayu, namun pada tahun 1922 di pugar oleh Pemerintahan Hindia Belanda secara permanen material semen dan batu bata yang ber arsitektur eropa.


Lokasi :


Destinasi Wisata Religi Masjid Baiturrahim tidak seberapa jauh dengan Masjid Baiturrahman, sekitar 10-15 meit perjalanan darat. Masjid ini terletak di Gp. Ulee Lheue, Meuraxa, Ulee Lheue, Banda Aceh, Kota Banda Aceh, Aceh.


3. Masjid TGK Dianjong dan Makam Tgk Dianjong



Masjid TGK Dianjong
Masjid TGK Dianjong Peulanggahan

Teungku Di Anjong merupakan ulama besar yang hidup pada masa kerajaan Aceh Sultan Alauddin Mahmud Syah, 1760 - 1781 M. Penobatan gelar yang dianugerahkan dengan ungkapan Teungku yang “dianjong” yang berarti disanjung atau dimuliakan. Dalam sumber lain juga disebutkan bahwa gelar Teungku Di Anjong diberikan karena ulama ini banyak menghabiskan ibadah dengan shalat, berzikir, shalawat dan membaca ratib di anjungan masjid yang bertingkat tiga.


Beliau dikenal sebagai ulama tasawuf, juga berperan sebagai ulama fikih dan telah membimbing manasik haji bagi calon-calon jamaah baik dari dalam wilayah kesultanan Aceh, Sumatera, Pulau Jawa, bahkan juga jamaah dari Semenanjung Malaya yang akan menunaikan ibadah haji melalui Aceh.


Teungku Di Anjong di makamkan tepat di sebelah kanan masjid, banyak peziarah lokal dan asing untuk menziarahi makam nya baik pada hari-hari besar islam maupun hari lainnya.


Lokasi :


Peulanggahan, Banda Aceh


4. Masjid Oman



Masjid Oman Lampriet
Masjid Oman Lampriet, Foto ; @wardhanabest
Asal mula masjid itu dibangun pada 1979, yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Aceh Prof A.Majid Ibrahim dan Tgk. H Abdullah Ujung Rimba (Ketua Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh). Masjid siap pada 1989.

Masjid Agung Al Makmur Lampriet atau lebih dikenal dengan Masjid Oman, merupakan masjid kebanggaan Kota Banda Aceh. Masjid bergaya Timur Tengah itu punya kedekatan dengan Negara Oman, setelah tsunami melanda Aceh.


Lokasi :


Jl. Arifin Ahmad VI, Pineung, Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Aceh


5. Makam Syiah Kuala



Makam Syiah Kuala, Foto; @bungkes

Syech Abdurrauf bin Ali Alfansuri atau yang terkenal dengan nama Teuku Syiah Kuala, dipadati ratusan pengunjung setiap harinya. Tak hanya dari berbagai kabupaten/kota di Aceh, kunjungan ramai juga datang dari warga luar Aceh, bahkan luar negeri seperti Malaysia, Brunai Darussalam dan Arab. Baik sekadar melihat, maupun hendak berziarah sembari membacakan zikir dan berdoa di makan ini.


Lokasi :


Makam Syiah Kuala tidak seberapa jauh dengan Masjid Raya Baiturrahman. Hanya dengan 10-15 menit perjalanan darat anda akan sampai ke lokasi. Wisata Religi Makam syiah kuala dapat di kunjungi di Gp. Deah Raya, Syiah Kuala, Deah Raya, Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Aceh.


6. PLTD Apong



PLTD Apung Banda Aceh
PLTD Apung Banda Aceh, Foto; ihwanulparis

PLTD Apung I adalah kapal pembangkit listrik seberat 2.600 ton dan luas 1.600 m2 milik PT. PLN (persero) yang ditambatkan di pelabuhan Ulee Lheue sejak tahun 2003 untuk membantu suplai arus listrik bagi masyarakat di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar.


Tsunami 26 Desember 2004 kapal tersebut terdorong ke daratan lebih kurang 3 km dan terdampar ditengah Gampong Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru. Saat tsunami menerjang di atas kapalnya ada 11 ABK tetapi dari 11 orang hanya 1 ABK yang selamat. 1 ABK yang selamat karena tetap berada di atas kapal ketika tongkang itu terbawa ombak ke daratan.


Lokasi :


Punge Blang Cut, Jaya Baru, Kota Banda Aceh


7. Kapal Apung



Kapal Apung Lampulo
Kapal Apung Lampulo, Foto ; teddy_dronnel

Kapal Lampulo merupakan kapal nelayan yang sering digunakan oleh masyarakat Lampulo di Banda Aceh untuk melaut. Tetapi tragedi besar di Aceh pada tahun 2004 silam, membuat kapal ini memiliki keunikan tersendiri dan kini sudah menjadi salah satu objek wisata sejarah di Banda Aceh. Kapal Apung Lampulo yang terdampar ini terletak tidak jauh dari pelabuhan perikanan, hanya sekitar 1 Kilometer dari dermaga.


Lokasi :


Gp. Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh


Nah itulah tempat wisata religi di kota banda aceh yang akan menambah wawasan anda tentang sejarah, dan dahsyatnya gempa bumi dan tsunami. Semoga bermanfaat.

Ayat Alquran jelaskan Gunung Sebagai Penstabil Bumi

Ayat Alquran jelaskan Gunung Sebagai Penstabil BumiSains modern saat ini menjelaskan bahwa pegunungan sebagai penstabil Bumi. Gunung-gunung mempunyai akar di dalam tanah dan mampu mencapai kedalaman yang membuat Bumi menjadi kokoh.
Wisata, Pendidikan, Gunung, Travel
Oleh karena akar tersebut berada di dalam tanah atau berada di bawah Bumi, seolah gunung-gunung mempunyai peran bagaikan pasak. Pasak tersebut dapat menahan agar kokoh dan gunung memiliki fungsi menstabilkan kerak Bumi, sehingga mencegah dari pergeseran tanah.

Gunung memiliki peran sebagai penstabil Bumi dan gunung terkait dengan proses panjang penciptaan planet. Gunung ini merupakan fenomena yang sangat penting dalam membuat planet agar cocok untuk kehidupan.


Surat An-Nazi'at ayat 32 menyebutkan bahwa gunung dipancangkan-Nya dengan teguh. Selain itu, dalam surat lainnya disebutkan bahwa gunung diciptakan sebagai pasak. 

"Bukankah Kami telah menjadikan Bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?," bunyi surat An Naba ayat 6-7.
Website Al-habib mengungkapkan, pengetahuan mengenai gunung-gunung yang memiliki akar ini diperkenalkan di paruh kedua dari abad ke-19. Padahal, Alquran telah menjelaskan segala fenomena yang terjadi di Bumi, termasuk gunung sekira 1.400 tahun lalu.
"Dan Dia menancapkan gunung di Bumi agar Bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk," bunyi surat An-Nahl ayat 15.
Semoga bermanfaat
#KeepBlogging

Ayat Alquran jelaskan Gunung Sebagai Penstabil Bumi

Ayat Alquran jelaskan Gunung Sebagai Penstabil BumiSains modern saat ini menjelaskan bahwa pegunungan sebagai penstabil Bumi. Gunung-gunung mempunyai akar di dalam tanah dan mampu mencapai kedalaman yang membuat Bumi menjadi kokoh.
Wisata, Pendidikan, Gunung, Travel
Oleh karena akar tersebut berada di dalam tanah atau berada di bawah Bumi, seolah gunung-gunung mempunyai peran bagaikan pasak. Pasak tersebut dapat menahan agar kokoh dan gunung memiliki fungsi menstabilkan kerak Bumi, sehingga mencegah dari pergeseran tanah.

Gunung memiliki peran sebagai penstabil Bumi dan gunung terkait dengan proses panjang penciptaan planet. Gunung ini merupakan fenomena yang sangat penting dalam membuat planet agar cocok untuk kehidupan.


Surat An-Nazi'at ayat 32 menyebutkan bahwa gunung dipancangkan-Nya dengan teguh. Selain itu, dalam surat lainnya disebutkan bahwa gunung diciptakan sebagai pasak. 

"Bukankah Kami telah menjadikan Bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?," bunyi surat An Naba ayat 6-7.
Website Al-habib mengungkapkan, pengetahuan mengenai gunung-gunung yang memiliki akar ini diperkenalkan di paruh kedua dari abad ke-19. Padahal, Alquran telah menjelaskan segala fenomena yang terjadi di Bumi, termasuk gunung sekira 1.400 tahun lalu.
"Dan Dia menancapkan gunung di Bumi agar Bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk," bunyi surat An-Nahl ayat 15.
Semoga bermanfaat
#KeepBlogging